foto

TEMPO/ Tri Handiyatno

Harga Baru Elpiji Diputuskan Setelah Lebaran

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mengkaji langkah-langkah yang akan diambil untuk mengurangi kerugian PT Pertamina akibat penundaan kenaikan harga elpiji 12 kilogram dan 50 kilogram.

Langkah yang akan diambil masih belum pasti, antara menaikkan harga elpiji sesuai permintaan Pertamina atau mengkompensasi kerugian yang diderita oleh perusahaan pelat merah tersebut. "Sedang dibahas pokoknya, harapannya setelah Lebaran sudah ada keputusannya," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo, Selasa, 19 Juli 2011.

Menurut Evita, saat ini pemerintah masih mempertimbangkan apakah kenaikan harga yang diminta Pertamina pantas atau tidak. Selain itu, apakah kenaikan harga sebagai hal yang mendesak atau tidak untuk dilakukan.

Direktur Keuangan Pertamina M. Afdhal Bahaudin menyatakan sikap Pertamina saat ini masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah. "Kami tunggu pemegang saham, kami juga tunggu fatwa dari Kementerian Energi," katanya.

Yang pasti, ujarnya, Pertamina mengharapkan pemerintah dapat memberikan kompensasi kerugian yang diderita selama ini jika keinginan menaikkan harga ditolak. "Supaya bisa balik modal, jadi tidak untung, tapi juga tidak rugi."

Menurutnya, pemerintah tidak boleh membiarkan Pertamina merugi. Pilihan Pertamina mengajukan kenaikan harga sementara ini bukan untuk langsung mendapatkan keuntungan. "Tetapi, bisa mengurangi kerugian dulu karena dari Januari kita sudah loss terus," kata dia.

Kenaikan yang dilakukan pun tidak begitu banyak. Pada tahap awal, Pertamina hanya akan menaikkan harga sebesar Rp 1.000 atau Rp 2.000 per kilogram. Dimulai terlebih dahulu dari Elpiji 50 kilogram yang biasa dikonsumsi oleh industri, hotel, maupun restoran. "Kecuali kalau kami mintanya langsung naik banyak, kami juga harus hitung-hitung dulu," ujarnya.

Semula, Pertamina berencana untuk menaikkan harga elpiji tersebut sebesar 10 persen dari harga sebelumnya. Pertamina bersikeras untuk menaikkan harga elpiji industri. Berdasarkan perhitungan Pertamina selama ini, dengan menjual harga di kisaran Rp 7.355 per kilogram, Pertamina kerap merugi.

Hingga kuartal pertama tahun ini, kerugian yang telah diderita Pertamina akibat penjualan elpiji tersebut telah menyentuh angka Rp 1 triliun. Apabila tidak ada kenaikan harga pada tahun ini, diperkirakan kerugian yang diderita oleh Pertamina akan sebanyak Rp 3,6 triliun.

GUSTIDHA BUDIARTIE