foto

TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

Pemerintah Didesak Perbaiki Distribusi Pasokan Kedelai  

TEMPO.CO, Jakarta - Himpunan Pengrajin Tahu Indonesia (Hipertindo) meminta pemerintah memperbaiki jalur distribusi antarpetani kedelai dengan pengrajin tahu-tempe. Menurut Sekretaris Jenderal Hipertindo Johanda Fadil, akibat sulitnya pengrajin mendapatkan pasokan kedelai, akhirnya banyak yang memilih jalur impor.

"Saat ini, kami baru mencoba gandeng HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia ) untuk membuat agar pengrajin bisa mendapat akses langsung menyerap kedelai dari petani sehingga pengrajin tahu-tempe tidak lagi mengandalkan impor," kata Johanda saat ditemui di Jakarta, Kamis, 21 Juli 2011.

Menurut dia, sulitnya pengrajin mendapatkan kedelai dari petani membuat mereka harus mendapat pasokan dari impor. Hampir 90 persen produksi tahu dan tempe nasional didapat oleh pengrajin dari impor. Kedelai impor rata-rata berasal dari Amerika Serikat dan Cina.

Namun, lanjutnya, akibat importasi ini, petani juga tak bergairah menanam kedelai akibat harga jatuh saat panen. Akhirnya, petani lebih memilih bertanam padi maupun jagung. "Petani bingung mau jual hasil produksi kedelainya ke mana. Semua sudah dikuasai oleh swasta dan kita terus-terusan didikte oleh pasar impor," ungkapnya.

Oleh karena itu, Johanda meminta pemerintah segera mengatur distribusi yang bisa menghubungkan langsung antara petani dengan pengrajin tahu-tempe. Tujuannya agar tercipta sinergi yang berbasis ekonomi kerakyatan dan membuat petani kembali bergairah menanam kedelai.

Saat ini, kebutuhan kedelai untuk industri tahu-tempe sekitar 2,5 juta ton per tahun. Dari jumlah kebutuhan tersebut, hanya sekitar 800-900 ribu ton yang diserap dari produksi lokal. Padahal, menurut Johanda, kualitas produk kedelai lokal lebih bagus ketimbang impor.

"Berdasarkan penelitian Hipertindo, dalam 10 kilogram kedelai lokal bisa menghasilkan 9 papan tahu, sedangkan kedelai impor hanya 7 papan. Saripati kedelai lokal juga lebih enak," ujarnya.

Produksi kedelai nasional tahun 2011, sesuai Angka Ramalan II Badan Pusat Statistik (BPS), diperkirakan menurun 9,66 persen atau sebesar 87,59 ribu ton dibanding tahun 2010. Penurunan produksi kedelai tahun 2011 tersebut terjadi di Jawa sebesar 85,25 ribu ton dan di luar Jawa sebesar 2,34 ribu ton. Penurunan produksi kedelai disebabkan turunnya luas panen seluas 68,79 ribu hektare (10,41 persen).

Sementara itu, Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, Kementerian Pertanian, Rahman Pinem, membenarkan petani kurang senang menanam kedelai sehingga pasokannya berkurang. "Pengrajin lebih senang membeli kedelai impor karena harganya lebih murah," kata dia. Harga kedelai lokal kualitas bagus sebesar Rp 7.500 per kilogram, sedangkan harga kedelai impor hanya Rp 6.000 per kilogram.

Mahalnya kedelai dalam negeri karena rantai panjang. Kedelai petani kecil dibeli oleh petani pengumpul dan seterusnya. Sehingga semakin panjang rantai distribusi, semakin tinggi harga. Padahal, kata dia, kedelai lokal lebih gurih dan lebih sehat.

Johanda kembali menambahkan, para pengrajin tahu dan tempe harus kehilangan penghasilan sebesar Rp 3 juta tiap bulannya akibat kurangnya pasokan kedelai. "Artinya, pengrajin kehilangan keuntungan sebesar Rp 60 juta tiap bulan atau Rp 1,2 miliar tiap tahun," ujarnya.

ROSALINA