foto

REUTERS/Saad Shalash

Bupati Kepulauan Seribu Sesalkan Penembakan di Muara Angke  

TEMPO.CO, Jakarta -Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu menyesalkan insiden tembakan ke udara yang dilepaskan petugas dari Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai di Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu 23 Juli 2011. Keputusan menembak dianggap berlebihan dan hanya membuat takut calon wisatawan yang kedatangannya dapat menambah penghasilan warga di Kepulauan Seribu.

“Bupati sangat prihatin, beliau dan kami semua berharap tidak ada lagi kejadian seperti itu lagi,” kata Kepala Suku Dinas Komunikasi dan Informasi Masyarakat, Kabupaten Kepulauan Seribu, Agus Tri Murtoyo. Dia berharap, aparat dapat bertindak lebih bijaksana menghadapi wisatawan.

Kepala Satuan Penjaga Laut dan Pantai Tanjung Priok, Nafri, yang dihubungi terpisah, membenarkan adanya empat tembakan ke udara yang dilepaskan anak buahnya, Sabut pagi. Saat itu terjadi ricuh antara calon penumpang kapal yang hendak menyeberang ke Kepulauan Seribu dengan penyelenggara perjalanan wisata dan pemilik kapal.

Nafri menjelaskan, tiap akhir pekan jumlah wisatawan menuju Kepulauan Seribu dari pelabuhan di Muara Angke memang bisa mencapai empat ribu orang. Namun jumlah kapal yang tersedia untuk menyeberangkan mereka hanya sekitar 15 buah, di mana setiap kapal rata-rata hanya dilengkapi 150 buah jaket pengaman.

Pada Sabtu pagi beberapa penumpang yang terlanjur naik kapal dan tak kebagian jaket diminta turun untuk naik kapal selanjutnya. "Di sini ada yang tak sabar," ujar Nafri.

Beberapa penumpang yang tak sabar itu, menurut Nafri, berusaha mengejar petugas dari pihak biro perjalanan hingga mereka melarikan diri dan naik ke kapal milik Penjaga Laut dan Pantai. Tembakan peringatan pun dilepaskan.

Nafri memang menyatakan ricuh berhasil diredam dan situasi segera kembali normal. Namun dia juga mengakui akibat tembakan peringatan itu, beberapa calon wisatawan mengurungkan niatnya untuk berwisata ke Kepulauan Seribu. "Kami hanya ingin mengamankan, karena perjalanan tanpa life jacket dengan kapal-kapal tradisional itu kan berbahaya," ujarnya.

PINGIT ARIA