TEMPO/Eko Siswono Toyudho
Topik
Calo Tiket Memanfaatkan Penjualan Online
TEMPO.CO, Jakarta - Calo selalu saja lebih pintar daripada petugas. Meski saban tahun pihak stasiun melakukan razia terhadap para calo, aksi penjual tiket itu tak pernah surut.
Kepala Stasiun Gambir Edy Kuswoyo menyatakan calo-calo yang beraksi saat ini memanfaatkan sistem penjualan online dalam menjalankan aksinya. "Jadi, mereka membeli tiket di luar, di Indomaret atau travel lalu dijual di stasiun yang masih banyak orang tidak kebagian tiket," ujarnya.
Sejumlah calo yang tertangkap mengaku kalau mereka mereguk keuntungan sekitar Rp 100 ribu per tiket. Contohnya, tiket kereta Argo Anggrek untuk keberangkatan H-3 (27 Agustus) dari Jakarta ke Surabaya yang harga resminya Rp 650 ribu dijual seharga Rp 750 ribu.
Edy menampik tuduhan bahwa ada ''orang dalam'' yang terlibat permainan calo tiket. "Bukan pegawai kita, itu orang luar," ujarnya.
Dia mengaku tak ada yang bisa diperbuat untuk mencegah percaloan tiket selain membatasi pembelian empat tiket untuk tiap orang. "Sekarang, untuk antrean langsung saja sulit membedakan yang mana pemudik, mana calo, apalagi kalau mereka membeli secara online," tuturnya.
Banyaknya calo tiket itu dibenarkan oleh Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar. Menurut Djafar, petugasnya, Minggu, 24 Juli 2011, telah menangkap 30 orang calo di Stasiun Gambir.
Namun, hal itu dibantah oleh Edy. "Tidak ada calo tiket hari itu," kata Edy kepada Tempo, Senin, 25 Juli 2011. Menurut Edy, sejak pemesanan tiket untuk mudik Lebaran dibuka, baru ada delapan calo tiket yang ditangkap di Stasiun Gambir.
PINGIT ARIA





