foto

TEMPO/Aditia Noviansyah

Bungaran: Program Swasembada Beras Masih Sporadis

TEMPO.CO, Jakarta - Program swasembada beras yang dicanangkan pemerintah dinilai belum mengarah pada swasembada yang berkelanjutan. Menurut mantan Menteri Pertanian periode 2000-2004, Bungaran Saragih, pemerintah selalu menargetkan swasembada, tapi melupakan proses dan pengembangan kelembagaan.

Swasembada, tuturnya, berarti tingkat produksi sama dengan permintaan tanpa disertai kenaikan harga dan negara bisa mengekspor. "Kalau sekarang, meski surplus, tapi harga tetap tinggi, berarti program swasembada dilakukan sporadis,” kata Bungaran dalam Diskusi Ketahanan Pangan, Senin, 25 Juli 2011.

Menurut dia, perlu ada lembaga khusus untuk mengamankan produksi beras dan mencapai swasembada yang berkelanjutan. Lembaga itu harus dipimpin langsung oleh presiden dibantu dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan kementerian terkait. 

Pemerintah juga harus melakukan intervensi terhadap produksi untuk melayani permintaan beras yang terus meningkat. Dari sisi produksi, orientasinya tak hanya peningkatan. Pasalnya, biaya peningkatan produktivitas pertanian sekarang mahal. "Air, pupuk, pestisida, benih, dan tenaga kerja mahal," ucap dia.

Selain itu, tingkat konsumsi beras masyarakat perlu ditekan. Konsumsi beras Indonesia saat ini tertinggi di dunia, mencapai 139 kilogram per orang per tahun. Bandingkan dengan Jepang yang hanya 60 kilogram.

Oleh karena itu, anggaran pemerintah untuk pangan seharusnya tak semuanya diberikan ke Kementerian Pertanian. Kementerian lain yang berpotensi meningkatkan diversifikasi pangan, seperti Kehutanan dan Perikanan, juga perlu diperhatikan.

Bungaran menganggap aneh dengan keputusan impor pemerintah. Sebab, sesuai dengan hukum ekonomi, seharusnya kalau produksi meningkat, maka harga akan rendah dan pemerintah tidak perlu impor. Tapi kenyataannya, tahun ini pemerintah sudah membuka keran impor. "Berarti perlu diperiksa angka statistiknya dulu. Benarkah ada surplus karena secara logika ekonomi tidak mungkin," katanya.

Awal Juli lalu, Badan Pusat Statistik merilis berdasarkan Angka Ramalan II, produksi beras naik 2,4 persen atau sebanyak 68,06 juta ton Gabah Kering Giling. Jumlah ini berarti bertambah 1,59 juta ton dibanding 2010 yang besarnya 66,47 juta ton Gabah Kering Giling.



Peneliti Agro Ekonomi Indonesia Faisal Kasryono mengatakan harga beras Indonesia sudah jauh melebihi harga beras internasional. Dia membandingkan, pada 2008, harga beras Thailand mencapai US$ 800 per ton.



"Oleh dunia, harga ini sudah mencapai yang tertinggi dan dianggap memasuki krisis pangan. Acuan harga beras internasional adalah Thailand," katanya. Sementara di Indonesia, pada 2011 diperkirakan harga beras menyentuh US$ 1.100 per ton.

ROSALINA