Pembangunan gedung bertingkat di kawasan Kebayoran, Jakarta, Jum''at (30/1). Menurut analisis properti Cushman and Wakefield, bisnis properti perkantoran di pusat distrik bisnis Jakarta diperkirakan lesu. TEMPO/Tommy Satria
Topik
Permintaan Ruang Perkantoran Melonjak Tajam
TEMPO.CO, Jakarta - Pasar perkantoran di Jakarta meningkat drastis pada semester pertama tahun ini. "Jumlah itu didapat dari total perkantoran yang ada di kawasan pusat bisnis," kata Head of Research and Advisory Cushman and Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo, Rabu, 26 Juli 2011.
Mengacu pada data Cushman and Wakefield, tingkat penyerapan perkantoran di kawasan pusat bisnis atau central business district (CBD) hingga Juni lalu menjadi 174.800 meter persegi, atau naik 82 persen dibanding periode yang sama setahun sebelumnya.
Selama kuartal kedua, penyerapan ruang perkantoran mencapai 92.300 meter persegi. Inilah yang membuat tingkat hunian juga meningkat pada kuartal kedua sebesar 1,6 persen. Total tingkat hunian di kawasan CBD menjadi 89,4 persen pada akhir Juni.
Menurut Arief, penyerapan tinggi karena banyak perusahaan multinasional dan lokal berekspansi, sehingga mendorong perkantoran cepat terjual. Dia memproyeksikan penyerapan perkantoran tetap tinggi dengan sektor perbankan memberi kontribusi besar.
Sebelumnya, Coldwell Banker Indonesia menyebutkan, pada kuartal pertama pasar perkantoran di Jakarta tumbuh lebih sepertiga dari total penyerapan tahun lalu. Pada kuartal pertama ada penambahan 148.900 meter persegi, yang berasal dari Allianz Tower, Sentral Senayan 3, dan Central Park.
Jakarta menyerap ruang kantor 86.500 meter persegi atau 18 persen lebih tinggi ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya. Tapi tingkat hunian sedikit menurun menjadi 89,2 persen karena ada tambahan pasokan baru selama triwulan pertama 2011.
Arief menambahkan, penyerapan perkantoran terbesar akan tergambar pada kuartal kedua, terutama di kawasan perkantoran elite, seperti di UOB Tower dan The Plaza. Sebab, penyewa besar akan melakukan penempatan secara fisik dari ruang perkantoran yang sebelumnya telah mereka pesan.
Permintaan yang besar otomatis mengatrol harga sewa. Cushman and Wakefield memprediksi harga sewa perkantoran di kawasan segitiga emas naik hingga 10 persen. Ini dipicu oleh tingkat hunian yang mencapai 89,4 persen dari jumlah perkantoran di sana.
Pada kuartal kedua, harga sewa rata-rata naik 2,1 persen menjadi US$ 17,73 per meter persegi per bulan. Namun secara pukul rata, harga sewa kantor mencapai US$ 22,1 per meter persegi per bulan untuk seluruh semester. "Dari angka itu kemungkinan bakal naik lagi 10 persen," ujar Arief.
Dengan tingkat hunian yang melebihi 85 persen itu, kata Arief, membuat pengembang memasang harga sendiri. Bahkan ada pengembang yang menaikkan harga karena terbatasnya ketersediaan ruang perkantoran dibandingkan dengan jumlah permintaan.
Untuk enam bulan ke depan, Arief memperkirakan kenaikan harga sewa di setiap kuartal mencapai 4 persen dibanding kuartal sebelumnya. Tapi dibandingkan dengan tahun lalu, harga sewa kantor di Indonesia tak terlalu bergeser ketimbang semester pertama tahun ini.
Cushman and Wakefield memaparkan, sewa kantor Indonesia menempati posisi ke-62 di dunia. Namun di Asia Pasifik, Indonesia menempati peringkat ke-25 dengan harga rata-rata US$ 27,32 per kaki persegi per tahun. "Artinya, harga sewa masih berkisar di area seperti Malaysia dan Thailand," ujar Arief.
SUTJI DECILYA





