Sebuah Kampung di Bantul Jadi Desa Wisata Korea Selatan

TEMPO.CO, Bantul - Warga Korea Selatan yang sering berkunjung ke Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ingin menjadikan Dusun Puton, Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, sebagai kampung wisata bermodel Korea Selatan.

Ini diungkapkan oleh sekitar 30 orang dari Negeri Ginseng ini saat berkunjung ke wilayah yang pernah dilanda gempa pada 2006 itu. Masyarakat Korea Selatan dari Provinsi Chengcheongnam-do dan organisasi masyarakat Cemaundong serta Hanseo University tersebut mengaku tertarik dengan kehidupan desa-desa yang ada di Kabupaten Bantul.

”Kami ingin menjadikan Puton sebagai desa wisata Korea Selatan,” kata pimpinan rombongan dari Korea Selatan, Mr. Prof Lee, Jumat, 29 Juli 2011. Rombongan tersebut diterima oleh Bupati Bantul Sri Surya Widati. Menurut Lee, penduduk Puton sangat ramah.

Warga Korea Selatan juga menyukai banyaknya tanaman durian yang buahnya lebat. Mereka menyebut Puton sebagai kampung durian. Lee ingin membuat kampung ini memiliki ciri khas Korea Selatan, yaitu ada beberapa bangunan berornamen khas Kore Selatan. “Ini untuk jalinan hubungan yang lebih baik antara masyarakat dengan negara kami," kata dia.

Ia menjelaskan, di Korea Selatan juga ada nama wilayah yang sama persis dengan yang ada di Bantul, yaitu Puton. Mahasiswa dan masyarakat Korea Selatan yang berkunjung ke Puton selalu membawa informasi perkembangan kawasan ini kepada mahasiswa baru. Sehingga mahasiswa asal Korea Selatan yang berada di Yogyakarta atau di Indonesia tertarik untuk mengunjungi Puton versi Bantul. Selama 14 hari berkunjung, rombongan didampingi oleh tim dari Pusat Studi Korea Universitas Gadjah Mada.

Sri Suryo Widati menyatakan, hubungan antara Pemerintah Bantul dan Korea Selatan perlu ditingkatkan. "Banyak warga Bantul yang bekerja di sana (Korea Selatan)," katanya.

Kampung Puton ini akan dijadikan pusat studi bahasa dan budaya Korea Selatan.

MUH SYAIFULLAH