Santri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur. TEMPO/Hari Tri Wasono
Topik
Ribuan Warga Ikuti Pengajian Kilat di Pesantren Lirboyo
TEMPO.CO, Kediri - Pondok Pesantren Lirboyo Kediri kembali membuka kesempatan kepada masyarakat umum untuk menjadi santri “dadakan”.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kesempatan yang hanya datang sekali dalam setahun pada setiap Ramadan itu dimanfaatkan warga di sekitar pondok. Mereka berbaur dengan santri tetap Lirboyo untuk belajar memaknai kitab yang disebut Kitab Kuning atau Kitab Gundul.
Khoirul Anam, salah seorang santri senior sekaligus pengurus pondok Lirboyo, mengatakan kegiatan memaknai Kitab Kuning berbeda dengan membaca Al-Quran. Sesuai dengan namanya, yakni memberi makna, warga dibimbing membaca dan memahami arti ayat per ayat yang tertera di dalam kitab. “Jadi tidak sekadar membaca, tapi memahami maknanya,” kata Anam di sela mengikuti pengajian di kediaman Kiai Anwar Manshur, Selasa, 2 Agustus 2011.
Program yang digelar sejak hari pertama Ramadan itu akan berakhir sehari sebelum hari raya Idul Fitri. Ditargetkan semua peserta pengajian tuntas memaknai kitab dalam kurun waktu 30 hari.
Untuk mengejar tenggat tersebut, pengurus pondok membagi program mengaji di kediaman pengasuh pondok. Masing-masing paket yang diasuh seorang kiai terdiri dari dua hingga lima kitab. Warga pun dibebaskan memilih sendiri kitab mana yang akan dipelajari.
Beberapa di antaranya adalah kitab Dalaitul Qoirot, kitab Hidayatul Hidayah, dan kitab Taklimmul Mut`alim. Untuk menuntaskan atau khatam masing-masing kitab membutuhkan waktu satu pekan dengan jadwal mengaji pagi dan sore. “Santri yang telah menyelesaikan kitab Dalaitul Qoirot akan diwisuda dengan penyematan ijazah oleh Kiai Idris,” ujar Anam.
Tampak ribuan warga mengikuti pengajian sembari berdesak-desakan hingga ke halaman rumah Kiai. Banyak di antaranya bahkan rela berpanas-panasan di bawah terik matahari di dekat pintu gerbang rumah Kiai Anwar. Mereka larut dalam alunan ayat suci yang dilantunkan sang imam melalui pengeras suara. Bagi yang tidak bisa mengaji tetap diperkenankan ikut meski hanya mendengarkan.
Bagi warga luar pondok yang tidak bermalam (santri kalong) dipungut biaya bulanan atau syahriah Rp 15 ribu. Bagi yang menginap selama satu bulan dikenai Rp 30 ribu.
Menurut Anam, setiap tahun tak kurang 1.500 santri dadakan mengikuti kegiatan ini.
HARI TRI WASONO





