Orang Utan yang Bahagia Hidup Lebih Lama
Topik
Penyayang Binatang Tagih Janji Gubernur Soal Orang Utan
TEMPO.CO, Jakarta - Sepuluh orang dari Jakarta Animal Aid Network dan Centre of Orang Utan Protection menggelar aksi unjuk rasa di depan Balai Kota DKI Jakarta, Kamis, 4 Agustus 2011. Mereka mengenakan kaos warna oranye, celana jins, dan merias wajahnya seperti orang utan. Mereka tak banyak bicara, hanya membawa spanduk dan papan kecil berwarna kuning bertuliskan “Orangutan Menagih Janji.”
"Kami menagih janji Gubernur," kata Koordinator Konservasi Eks Situs dari Centre of Orang Utan Protection, Daniek Hendarto, di Balai Kota, Jakarta, Kamis, 4 Agustus 2011. “Dua tahun lalu, Gubernur telah berjanji meningkatkan kualitas hidup orang utan. Namun hingga kini orang utan masih ditempatkan di kandang yang buruk, kekurangan makanan, dan mendapat perawatan yang tak layak,” kata dia.
Selama ini, kata Daniel, pengelolaan orang utan masih menggunakan sistem kuno. “Mereka hanya dijadikan sebagai obyek. Mereka bukan hanya butuh makan dan minum, tapi juga butuh sarana bermain agar tidak stres dan bosan," ujarnya.
Menurut dia, orang utan di Taman Margasatwa Ragunan dipelihara di dua tempat terpisah. Yang menjadi perhatian besar adalah yang dirawat di kandang di halaman rumah Ulrike von Mengden. Ben Vika dari Jakarta Animal Aid Network mempertanyakan perlakuan buruk terhadap satwa langka ini. “Ini sangat memalukan. Mereka bisa bertahan selama ini karena pengunjung, termasuk anak–anak, memberikan makanan,” katanya.
Kebanyakan orang utan di Ragunan berasal dari belantara Kalimantan. Sebagian merupakan korban dari perdagangan hewan ilegal yang diserahkan ke kebun binatang, baik oleh Kementerian Kehutanan maupun oleh orang-orang yang menentang orang utan sebagai hewan peliharaan. Populasi orang utan sendiri terus menurun menjadi 3.000-5.000 per tahun karena penggundulan hutan dan perburuan. “Kami memperkirakan 55 ribu populasi orang utan mungkin akan punah dalam kurun waktu sepuluh tahun,” kata Ben.
AMANDRA MUSTIKA MEGARANI





