foto

Cengkeh. TEMPO/Prima Mulia

Pengusaha Rokok Kecil Minta Pemerintah Buka Impor Cengkih  

TEMPO.CO, Kudus - Perusahaan rokok menengah kecil menjerit dengan melejitnya kenaikan harga cengkih. Jika pemerintah tidak membuka kran impor cegkih, pabrik rokok kelas menengah dan kecil terancam bangkrut.
“Kemampuan bertahan secara nasional hanya sampai akhir tahun,” kata H. Guntur, Ketua Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi) Jawa Tengah, Jumat 5 Agustus 2011.


Harga cengkih saat pada kisaran Rp 160 ribu-200 ribu per kilogram. Padahal empat bulan lalu, harga cengkih masih pada kisaran Rp 60 ribu per kilogram. Sejak itu, harga tidak lagi terkendali sehingga puncaknya, Agustus ini sudah mencapai Rp 160 ribu untuk cengkih Jawa dan Rp 200 ribu untuk cengkih Menado Rp 200.“Sebagian besar anggota kami produksinya tidak lancar dan sering tutup,” kata Guntur, yang memiliki anggota 44 perusahaan di Jawa Tengah.

Hal sama juga dikeluhkan Rusdi, Ketua Komunitas Perusahaan Rokok Kudus (KPRK), yang semula beranggotakan 45 perusahaan dan kini tinggal 23 perusahaan. Menghadapi harga cengkih yang naik, kata dia, banyak anggota KPRK tutup sementara.

Mahalnya harga cengkih diperkirakan akibat anomali cuaca sahingga banyak tanaman cengkih tidak berbuah. Akibatnya, suplai cengkih berkurang dan para pabrik rokok skala besar saling berebut cengkih. “Kasihan pabrik menengah-kecil,” kata Guntur.

Guntur menilai, langkanya stok cengkih itu tak lepas dari permainan pabrik besar. Mereka berlomba-lomba untuk menimbun cengkih, agar harga tidak terjangkau oleh pabrik menengah-kecil. Kondisi ini semakin diperparah adanya sejumlah pabrik besar juga mengekspor cengkihnya. “Sudah terasa sejak 3-4 tahun lalu, dengan tujuan agar pabrik menengah-kecil cepat tutup."

BANDELAN AMARUDDIN