Saenuddin, 40 tahun saat membangunkan sahur. TEMPO/Iqbal Lubis
Topik
Tunanetra Ini 26 Tahun Bekerja Sebagai ''Juru'' Sahur
TEMPO.CO, Makassar - Sekitar pukul dua dinihari, Saenuddin, 40 tahun, bersiap-siap di kamar sederhana berukuran 2x2 meter lantai dua. Ia memakai kopiah, celana, dan baju koko putih. Perlahan, ia menuruni tangga semiring 45 derajat. Langkahnya begitu sigap, lincah, seolah menguasai jumlah anak tangga yang tingginya tak sampai 2 meter itu.
Saenuddin cacat sejak lahir. Ia adalah tunanetra yang saban menjelang Subuh mengingatkan warga untuk makan sahur. "Bangun maki'', waktunya mi sahur-sahur-sahur," begitu teriak Saenuddin dengan dialog khas Makassar sambil menenteng alat pengeras suara, mikropone, yang tergantung di bahu kirinya.
Saban Subuh, mulai pukul tiga dinihari, Saenuddin berangkat dari rumahnya yang padat pemukiman di lorong tiga belas Jalan Barranglompo, Kota Makassar. Dipandu ponakannya yang masih berusia belasan tahun, ia berjalan mengitari Jalan Barranglompo, Lae-lae, Tarakan hingga ke Jalan Irian demi mengingatkan warga untuk sahur.
Pekerjaan ini sudah dilakoni Saenuddin sejak tahun 1985. "Tidak ada maksud apapun. Saya hanya mengingatkan warga muslim supaya sahur di bulan puasa," katanya. Bertahun-tahun, Saenuddin melakoni aktivitas membangunkan warga menjelang Subuh hari.
Warga sekitar begitu akrab dengan suaranya. "Saya kalau ingat puasa pasti ingat Chia," kata Muhammad Idrus, 60 tahun, Ketua RT setempat. Chia adalah sapaan akrab Saenuddin. Sebagai warga lama yang tinggal di lorong 13 Jalan Baranglompo, semua warga, terutama di Lorong 13, pasti mengenal Chia.
Tak segan-segan, di waktu sahur, saban kali Saenuddin juga terbiasa menghubungi Pak RT lewat ponsel. "Makanya, dia itu saking baiknya mau mengingatkan sahur, dia menelpon saya," kata Pak RT.
Kadang-kadang, anak kecil memanggil Chia dengan sebutan Anto. "Dia itu orangnya sabar, suka bercanda meski dijahilin sama anak-anak," ucap Pak RT. Lorong 13 Jalan Baranglompo adalah lorong kecil berukuran satu meter setengah atau cukup untuk berpapasan dua kendaraan sepeda motor. Lorong ini beralas paving blok sepanjang 100 meter, tembus ke arah Jalan Wahidin Sudirohusodo tepat di depan Masjid Tua Taqwa.
Rumah Saenuddin sangat sederhana, terbuat dari dinding tripleks beratapkan seng. "Chia tinggal di sini bersama empat ponakan dan satu saudaranya," kata Ibu Saniah, ibunda Chia yang berusia 74 tahun.
Di waktu siang, saat orang-orang beraktivitas, Saenuddin melakoni berbagai pekerjaan. Dari makelar ponsel, rumah, mobil, hingga berjualan seadanya di depan rumah. "Ini lapak saya," ujarnya sambil menunjuk lemari kaca berisi rokok, indomie, dan penganan instan untuk anak-anak.
Selain mengingatkan warga bangun sahur, sehabis sahur Chia masih melanjutkan perjalanannya mengingatkan waktu imsak. Ia juga tak lupa mengingatkan warga untuk waspada. "Waktunya imsak. Jangan lupa waspada kebakaran dan pencurian di bulan puasa ini," teriaknya.
Dari kegiatan yang tanpa pamrih itu, Chia disayangi para tetangganya. "Kalau Lebaran tiba, ada saja sumbangan ke rumah Chia secara sukarela, barangkali karena keikhlasannya itu," kata ibu Nurhayati Atjo, tetangga Chia.
ICHSAN AMIN





