Topik
Impor Cengkeh Bisa Redam Kenaikan Harga
TEMPO.CO, Jakarta - Impor cengkeh yang disepakati pemerintah dan pelaku usaha diyakini bisa meredam kenaikan harga yang kini melambung tinggi. "Kalau impor sudah masuk, mungkin harga cengkeh bisa Rp 100 ribu per kilogram hingga akhir tahun," kata Ketua Umum Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia, Soetardjo pada Tempo, Selasa, 9 Agustus 2011.
Hal ini menanggapi kesepakatan pemerintah dan pengusaha serta petani cengkeh mengimpor 54 ribu ton cengkeh dari Zanzibar dan Madagaskar. Namun, Soetardjo belum mengetahui berapa banyak impor cengkeh yang sudah terealisasi.
Menurut dia, harga cengkeh di pasar dunia kini sudah sekitar Rp 140 ribu per kilogram. Pesaing Indonesia untuk mendapatkan cengkeh dari pasar dunia tidak banyak. Sebab, kebutuhan cengkeh di India, Turki dan Cina tidak besar.
Saat ini, harga cengkeh yang dijual kepada industri rokok sudah mencapai Rp 170 ribu per kilogram. "Sedangkan, harga di tingkat petani kepada tengkulak sebesar Rp 160 ribu per kilogram," kata dia. Padahal, pada kondisi normal, harga cengkeh hanya Rp 50 ribu-Rp 60 ribu per kilogram.
Lonjakan harga cengkeh tahun ini akibat hasil panen yang kurang baik. Pada awal tahun, pemerintah menargetkan produksi cengkeh tahun ini bisa mencapai 84 ribu ton. Tapi, setelah Asosiasi cek ke lapangan, produksi tahun ini mungkin hanya 15 persen dari target atau sekitar 10-15 ribu ton.
Rendahnya produksi cengkeh akibat anomali iklim yang terjadi tahun lalu. Hujan yang terus-menerus menyebabkan bakal bunga cengkeh menjadi pucuk. Sementara bunga cengkeh yang sudah tumbuh pun menjadi rontok.
Soetardjo berharap, kondisi cuaca menjelang panen raya tahun depan akan kembali normal dan tidak terlalu banyak hujan. Jika demikian, maka produksi cengkeh akan membaik. Sehingga harga pada panen raya sekitar Juni atau Juli tahun depan akan kembali normal sekitar Rp 50 ribu per kilogram.
EKA UTAMI APRILIA





