Tradisi Kirab Malam Selikuran di Solo Kekurangan Biaya


TEMPO.CO, Surakarta - Keraton Kasunanan Surakarta akan mengubah konsep penyelenggaraan kirab Malam Selikuran pada Ramadan tahun ini. Perubahan dilakukan lantaran keterbatasan anggaran yang dimiliki. Terpaksa rute penyelenggaraan kirab diperpendek.

Wakil Pengageng Sentana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta, KP Winarno Kusumo, menerangkan Malam Selikuran merupakan tradisi untuk menyambut malam Lailatul Qodar di bulan Ramadan. Tradisi itu ditandai dengan pelaksanaan kirab dari Keraton Kasunanan menuju Sriwedari. “Rute kirab ini dibuat sejak zaman Paku Buwana X,” kata Winarno, Selasa 9 Agustus 2011.

Hanya, untuk tahun ini mereka harus memperpendek rute penyelenggaraan ritual Malam Selikuran. “Penyelenggaraan ritual ini butuh biaya hingga Rp 20 juta,” kata Winarno. Namun Sasana Wilapa sebagai salah satu lembaga dalam keraton itu mengaku tidak memiliki anggaran sebesar itu.

Acara kirab dalam penyelenggaraan Malam Selikuran tahun ini hanya akan mengambil rute dari Keraton Kasunanan menuju Masjid Agung. Meski diperpendek, mereka tetap akan menyediakan tumpeng sebagai pelengkap ritual. “Namun jumlahnya tidak sampai seribu seperti biasanya,” kata Winarno.

Menurut Winarno, sebenarnya rute tersebut pernah digunakan pada zaman Paku Buwana IV yang memerintah di tahun 1788 hingga 1820. Rute tersebut dialihkan menuju Sriwedari pada zaman Paku Buwana X yang memerintah pada 1893 hingga 1938. “Alasannya agar masyarakat bisa mengikuti acara tersebut,” katanya lagi.

Salah seorang penggiat Solo Tempo Doeloe, Heri Priyatmoko, menyesalkan adanya perubahan penyelenggaraan kirab Malam Selikuran. Menurutnya Pemerintah Kota Surakarta harus turut mendanai kegiatan tersebut agar bisa terselenggara seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dia menganggap Pemerintah Kota Surakarta tidak memiliki keberpihakan terhadap ritual budaya lokal yang telah mentradisi. “Pemerintah malah lebih pro terhadap karnaval modern yang tidak ada pijakan sejarahnya,” kata Heri.

Kondisi tersebut menyebabkan ketimpangan dalam ranah kultural serta kesenian. Hal itu menurutnya dapat mengganggu memori kolektif masyarakat Surakarta. “Pemerintah harus ikut menjaga kearifan lokal,” kata Heri.

Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Budi Yulistyanto mengakui bahwa mereka tidak memberikan bantuan biaya khusus bagi penyelenggaraan ritual Malam Selikuran. “Namun kami telah memberi anggaran hibah untuk keraton tiap tahun,” kata Budi.

Untuk tahun ini besarnya hibah yang diberikan kepada Keraton Kasunanan mencapai Rp 300 juta. Hibah tersebut digunakan untuk mencukupi kebutuhan keraton dalam menyelenggarakan kegiatan ritual dan tradisi.

AHMAD RAFIQ

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan