Topik
Membangun Karakter Manusia Lewat Masjid
TEMPO.CO, Kudus - Dekadensi moral saat ini telah menjangkiti bangsa Indonesia, sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Karena itu, solusi masalah itu bisa dilakukan dengan membangun karakter.
“Pembangunan karakter ini dapat dilakukan melalui media masjid dan musala,” ujar master pelatihan salat khusyuk, Abu Sangkan, dalam acara Safari Ramadan di Universitas Muria Kudus, Senin malam, 8 Agustus 2011.
Abu menuturkan pembangunan karakter manusia ini pernah dilakukan Nabi Muhammad ketika membangun moral penduduk Kota Mekah dan Madinah. Di kota tersebut masyarakat jahiliah yang tidak bermoral bisa dibenahi Nabi Muhammad.
Melalui masjid, lanjutnya, Nabi Muhammmad mengajarkan nilai-nilai moral yang disarikan dari kitab suci Al-Quran. Para wali terdahulu menurut dia juga memanfaatkan masjid sebagai penyebaran ajaran agama di pusat kota.
Masjid ditata sedemikian rupa agar hidup. Sebagai daya tarik di depan masjid biasanya terdapat alun-alun, pohon waringin. “Masing-masing punya filosofi makna. Waringin misalnya sama dengan wira’i yang berarti tidak terikat oleh keduniaan,” ujar Abu.
Konsep jamaah yang dikembangkan dalam masjid dinilainya dapat menguatkan bangunan kekuatan karakter umat Islam. “Umat Islam tahu itu, tapi tidak juga dilaksanakan,” ujar Abu.
Islam berkembang di Indonesia, menurut dia, tidak berjalan melalui politik, tapi lewat pendidikan yang terdapat pada sekolah atau pesantren. Sebaliknya, karena bersinggungan dengan dunia politik, umat Islam menjadi lemah, sehingga mudah terpecah-belah.
Selain membedah peran penting masjid, hingga tengah malam Abu juga mengupas ritual salat dikaitkan dengan puasa, haji, dan zakat. Menurut Abu, salat sebagai tiang agama memiliki kedudukan penting. “Jika salat seseorang benar, hidupnya akan benar,” kata Abu menjelaskan alasan mengapa ia mengadakan pelatihan salat khusyuk.
Puasa, misalnya, menurut Abu Sangkan, secara filosofis memiliki kesamaan dengan salat. Keduanya bertujuan mengembalikan manusia menuju ke rohaniah yang suci, sehingga terbentuk sikap moral yang baik.
“Kebaikan terdapat pada manusia yang mampu meredam salah satu sifat pada manusia, yakni nafsu yang bersifat keduniaan. Dengan begitu, yang tersisa hanya rohaniah yang suci,” kata Abu mengungkapkan alasan di balik kewajiban puasa Ramadan.
BANDELAN AMARUDDIN





