Topik
Kereta Combi Dihapus, Tingkat Kecelakaan Mudik Diduga Naik
TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) khawatir risiko kecelakaan saat mudik tahun ini akan naik. Ketua Umum MTI, Danang Parikesit, mengatakan risiko kecelakaan naik karena penghapusan kereta api combi yang mengangkut sepeda motor dan penumpang. “Kami menyayangkan kenapa kereta itu tak diadakan lagi,” katanya, kemarin.
Tahun lalu ada 1.460 kasus kecelakaan dengan korban meninggal sebanyak 328 orang. Sebanyak 70 persen korban di antaranya adalah pengguna sepeda motor, sisanya mobil dan bus.
Dengan penghentian kereta combi itu, maka pemudik dengan motor atau kendaraan pribadi akan makin bertambah seiring dengan risiko kecelakaannya. Sepinya peminat bukan jadi alasan untuk menutup layanan ini.
Sepinya peminat, menurut dia, karena sosialisasi yang kurang dan waktu sosialisasi yang terbatas sehingga pengguna layanan ini masih minim. “Harusnya disosialisasikan enam bulan sebelum mudik.”
Danang berharap, sisa waktu dua pekan sebelum mudik tiba bisa dimanfaatkan bagi PT KA untuk merenegoisasikan kereta combi.
Faktor lain yang bisa menaikkan risiko kecelakaan adalah naiknya jumlah pemudik. Tahun lalu pemudik mencapai 14,8 juta orang. Tahun ini pemerintah memperkirakan jumlah pemudik akan naik 4,14 persen menjadi 15,4 juta orang. Adapun MTI memperkirakan pemudik tahun ini naik 6-7 persen menjadi 17 juta.
Selama ini, tren kecelakaan mudik sejak 2008-2010 menunjukkan jumlah korban kecelakaan mudik berkurang. Pada 2008 terdapat 2.553 kasus, lalu turun menjadi 1.646 kasus tahun berikutnya.
Tahun lalu terjadi 1.460 kasus yang terutama karena kelelahan. Penyebab lain adalah jalan, terutama jalan provinsi dan kabupaten. Sedangkan kelaikan kendaraan tak terlalu menyumbang penyebab kecelakaan.
Selain itu, praktek CSR perusahaan yang mengadakan mudik bareng gratis tak memecahkan masalah. Selama ini, mudik bareng biasanya menggunakan bus pariwisata, bukan menggunakan bus reguler.
NUR ROCHMI





