foto

Masjid Agung Surakarta. Tempo/Andry Prasetyo

Melihat Keunikan Jam Matahari di Masjid Agung Surakarta

TEMPO.CO, Surakarta - Sebuah tugu setinggi satu meter berdiri di depan kantor takmir Masjid Agung yang berada di kompleks Keraton Surakarta. Bentuknya mirip dengan buah catur. Di bagian atasnya terdapat sebuah benda yang terlindung kaca.

Benda di dalam kaca tersebut berujud cekungan setengah lingkaran. Bagian dalamnya dilapisi kuningan. Terdapat beberapa garis dan angka di permukaan kuningan itu. Sebuah logam batang berdiri menunjuk ke atas. Disorot oleh sinar matahari, bayangan logam tersebut menunjuk ke angka dan garis tertentu.

Benda tersebut adalah istiwak atau yang biasa disebut dengan jam matahari. Peralatan canggih pada zamannya itu telah berusia hampir satu abad. Dulunya, istiwak tersebut merupakan salah satu peralatan penting untuk menentukan waktu salat.

Menurut salah satu takmir Masjid Agung, Slamet Aby, istiwak tersebut dipasang di masjid tersebut pada tahun 1926. Pemasangan istiwak tersebut bertepatan dengan ulang tahun ke 64 Paku Buwana X.

“Jam matahari tersebut memiliki akurasi yang sangat tinggi untuk menunjukkan waktu salat,” kata Slamet Aby. Namun, hanya waktu Sholat Zuhur dan Ashar saja yang bisa ditentukan melalui peralatan tersebut. Sebab, cara kerja jam matahari itu membutuhkan adanya sinar matahari. Tentunya, jam itu juga tidak bisa bekerja saat cuaca hujan atau mendung.

Cara membaca jam matahari itu juga tidak terlampau sulit. Dalam cekungan tersebut terdapat angka-angka, mulai angka 1 hingga 12. “Untuk membacanya tinggal melihat di angka berapa bayangan itu jatuh,” kata Slamet. Hingga saat ini, tidak jarang seorang muadzin melongok jam tersebut sebelum mengumandangkan azan.

Meski peralatan jam yang mahal nan canggih terus berkembang, jam tersebut tidak tersingkir. Pengurus masjid mencoba melestarikan keberadaan jam tanpa mesin itu. Paling tidak, banyak pengunjung yang tertarik menyaksikan keberadaan jam matahari itu.

Salah satunya adalah Sobaeri, seorang warga Semarang yang berkunjung ke Masjid Agung menjelang waktu shalat Zuhur. Menurut pedagang kain tersebut, dirinya berulangkali singgah di Masjid Agung saat membeli barang dagangan ke Pasar Klewer. “Namun, baru sekarang tahu kalau di sini ada jam matahari,” kata Sobaeri sembari asyik melihat-lihat jam tersebut.

AHMAD RAFIQ