foto

TEMPO/Aditia Noviansyah

Penembak Jitu Juga Amankan Jalur Mudik di Jember  

TEMPO.CO, Jember - Satu regu penembak jitu (sniper) dari Kepolisian Daerah Jawa Timur dikerahkan untuk mengamankan jalur mudik di kawasan Kabupaten Jember.

Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Jember, Komisaris Polisi Budiharto, menjelaskan para penembak jitu ditempatkan di sejumlah lokasi yang selama ini dikenal rawan berbagai tindak kriminalitas. “Kami sudah petakan lokasi-lokasi yang akan didijaga sniper,” katanya, Minggu, 14 Agustus 2011.

Lokasi tersebut di antaranya daerah di sekitar Tanggul dan kawasan Gunung Gumitir. Kedua daerah itu dilewati jalan Provinsi yang menghubungkan Jember dengan Surabaya ke arah barat dan Banyuwangi ke arah timur.

Jalur jalan yang berkelok di sepanjang pengunungan Gumitir yang tergolong black spot itu mendapat perhatian khusus. Di kawasan ini kerap terjadi tindak kriminalitas, seperti bajing loncat.

Pada jalur dengan panjang 10 kilometer itu terdapat lebih dari 50 tikungan tajam yang menanjak dengan kemiringan antara 10 hingga 40 derajad. Selain sering terjadi kecelakaan lalu lintas di kilometer (KM) 28 – 31, juga kerap dilanda tanah longsor di KM 30 – 37.

Itu sebabnya telah disiapkan 10 pos penjagaan. Delapan pos di antaranya melakukan pemantauan gerak kendaraan arus mudik dan dua pos khusus memantau kendaraan pariwisata. “Di setiap pos dilengkapi satu unit alat eskavator untuk membantu penanganan kendaraan yang terjebak longsor atau kecelakaan lalu lintas,” ujar Budiharto.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Jember, Ajun Komisaris Polisi Wiwit Adi, menjelaskan bahwa untuk membantu pengamanan arus mudik di kawasan Gunung Gumitir, Polres Jember juga melibatkan penduduk setempat yang sehari-hari bekerja sebagai penunjuk jalan sambil meminta imbalan jasa berupa uang yang lebih populer dengan sebutan tukang awe-awe. “Mereka dilengkapi senter dan rompi khusus,” tutur Wiwit.

Untuk tahap awal dilibatkan 25 orang. Jumlahnya akan ditambah menjadi 100 orang berdasarkan kebutuhan dan kepadatan arus lalu lintas.

Holil, 40 tahun, bersama menantunya, Hafit, 23 tahun, tukang awe-awe di tikungan Watu Gudang di sekitar puncak Gunung Gumitir mengaku sudah tiga tahun terakhir ini membantu polisi mengatur lalu lintas setiap musim mudik lebaran. "Selain membantu polisi, penghasilan bertambah,” kata Holil.

Pada hari biasa Holil mengantongi penghasilan Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Pada musim arus mudik dan arus balik lebaran, Holil bisa membawa pulang uang hingga Rp 100 ribu per hari. "Meskipun sehari semalaman tidak di rumah, tapi bisa dapat uang untuk belanja lebaran,” paparnya.

MAHBUB DJUNAIDY