foto

Tempo/Tony Hartawan

Jalur TKI di Bandar Udara Rawan Penyelundupan

TEMPO.CO, Tangerang -Jalur pemulangan tenaga kerja Indonesia dari luar negeri sangat rawan penyelundupan barang terlarang, termasuk narkoba. Pengawasan dan pemeriksaan para pekerja yang datang hingga ribuan orang per hari tersebut dinilai sangat longgar di Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Mereka bahkan tak diwajibkan menjalani pemindaian dengan sinar-X seperti halnya penumpang lainnya. "Celah besar ini kemungkinan sudah banyak dimanfaatkan oleh sindikat narkotik internasional," kata Kepala Satuan Pelayanan Kepulangan TKI di Gedung Pendataan Kedatangan TKI Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), Ajun Komisaris Besar Rolly Laheba, kemarin.

Rolly mengungkapkan pengawasan di jalur pemulangan TKI selama ini sangat longgar. Sejak turun dari pesawat, kemudian mengambil bagasi, menunggu bus di lounge, hingga tiba di gedung BNP2TKI, para pekerja sama sekali tidak menjalani pemeriksaan dengan mesin pemindai.

Menurut Rolly, sudah banyak TKI yang ditangkap karena diduga menjadi kurir narkoba atau setidaknya terlibat dalam penyelundupan barang-barang terlarang. Satu contohnya adalah kasus penangkapan Yanuari Mariyanti, TKI dari Singapura, pada Mei lalu.

Yanti terungkap menelan 54 kapsul heroin senilai Rp 1,6 miliar. Petugas dari Markas Besar Kepolisian RI menangkap Yanti setelah mendapat informasi dari Polisi Diraja Malaysia tentang akan masuknya kurir narkoba ke Indonesia.

Yanti ditangkap di sebuah hotel di Cikini, Jakarta Pusat, bersama warga negara Ghana bernama Tony Appiah dan kekasih Appiah yang berkewarganegaraan Indonesia. Polisi saat itu mengatakan bahwa heroin yang dibawa Yanti berasal dari Iran dan dia dijanjikan upah Rp 2 juta.

Sebelumnya, WSD, 30 tahun, pria TKI asal Malaysia, ditangkap pada April silam. Ia mengaku dititipi barang berupa dua kantong plastik dan tiga kotak cokelat oleh seseorang yang tidak dikenalnya di dalam pesawat untuk diserahkan kepada orang lain yang menunggu di bandara. Belakangan terungkap paket itu berisi heroin 3 kilogram senilai Rp 3 miliar.

Rolly mengatakan jalur TKI bisa dimanfaatkan untuk penyelundupan narkoba setiap saat. Yang paling rawan adalah ketika masa TKI pulang, seperti menjelang Lebaran saat ini, yang dalam sehari bisa mencapai lebih dari 1.000 orang. "Para mafia pastinya sudah membaca dan memanfaatkan peluang besar ini," katanya.

Lemahnya pengawasan di bandara diakui Lia dan Lisdatul, TKI asal Jawa Barat. Mereka, yang masing-masing baru pulang dari Arab Saudi dan Singapura, mengaku tak menjalani pemindaian sinar-X. "Kalau lewat jalur TKI memang tak melalui x-ray. Langsung ngeloyor aja, terus naik bus ke Gedung Pendataan," kata keduanya kemarin.

Juru bicara Badan Narkotika Nasional, Sumirat, mengakui telah meningkatkan pengawasan dalam masa mudik ini. Namun pihaknya tak ingin hanya berfokus pada jalur TKI. "Itu sama artinya penumpang lainnya kami tidak perhatikan," ujarnya secara terpisah kemarin.

JONIANSYAH | JAYADI SUPRIYADIN | WURAGIL | PDAT