AP/Shuji Kajiyama
Topik
Efek Tsunami, Ekonomi Jepang Melambat
TEMPO.CO, Tokyo - Duka masih menyelimuti Negeri Sakura. Pada kuartal kedua tahun ini perekonomian Jepang berjalan lebih lambat dari yang diharapkan. Melemahnya ekspor dan upaya pemulihan dari bencana gempa dan tsunami Maret lalu sedikit berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
Analis memperkirakan perekonomian bakal kembali bangkit pada Juli sampai September ini. Malah diperkirakan pada tingkat tercepat di antara negara-negara industri lainnya. Perusahaan-perusahaan di Jepang membuat kemajuan lebih cepat dari yang diperkirakan dalam memulihkan rantai pasokan.
Kekhawatiran bahwa bencana utang di negara-negara Eropa memicu krisis global, yang berdampak menurunnya permintaan ekspor, meningkatkan intervensi pada perdangan yen lebih lanjut, dan pelonggaran moneter untuk mengamankan pemulihan ekonomi.
Produk domestik bruto menyusut 0,3 persen pada kuartal kedua, kurang dari perkiraan rata-rata untuk kontraksi 0,7 persen dan kontraksi 0,9 persen pada Januari-Maret.
Pada basis tahunan, ekonomi kontraksi 1,3 persen terhadap perkiraan rata-rata penurunan tahunan 2,6 persen. Amerika Serikat mencatat pertumbuhan sebesar 1,3 persen pada kuartal yang sama.
Konsumsi swasta, yang membuat naik sekitar 60 persen dari perekonomian, turun 0,1 persen pada April-Juni karena beberapa rumah tangga mengurangi pengeluaran setelah gempa besar, tsunami, dan krisis nuklir di bulan Maret.
Belanja modal perusahaan naik 0,2 persen terhadap perkiraan pasar kenaikan 0,5 persen. Permintaan eksternal, atau ekspor bersih, PDB ditekan sebesar 0,8 persen poin, sebagai bencana dicegah beberapa produsen Jepang dari pengiriman barang luar negeri.
Jepang melakukan intervensi di pasar mata uang dan kebijakan moneter mereda awal bulan ini, bertujuan untuk mengekang kenaikan yen agar tak menyentuh rekor tertinggi. Melambungnya yen mengancam pemulihan ekonomi ekspor.
Analis memperkirakan perekonomian akan keluar dari resesi pada Juli-September, setelah tiga kuartal berturut-turut kontraksi.
REUTERS | ERWINDAR





