Deddy Saleh. TEMPO/Puspa Perwitasari
Tahun Ini Indonesia Targetkan Nilai Ekspor US$ 200 Miliar
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Deddy Saleh, mengatakan tahun ini Indonesia menargetkan nilai ekspor US$ 200 miliar. Saat ini baru 20 negara yang nilai ekspornya mencapai US$ 200 miliar. Terdiri dari 12 negara maju dan 8 negara berkembang. Di antara negara maju itu, hanya Belgia yang berhasil menggandakan nilai ekspornya dalam waktu tercepat. "Hanya butuh waktu 3 tahun," kata Deddy kepada wartawan, Senin 15 Agustus 2011.
Beberapa negara maju lain butuh waktu 5 tahun atau lebih untuk menggandakan nilai ekspor menjadi US$ 200 miliar. Dia menyebutkan, Jerman dan Belanda saja butuh 12 tahun untuk meningkatkan ekspor dari US$ 100 miliar menjadi dua kali lipat. Sementara Prancis butuh 10 tahun dan Jepang harus melewati 7 tahun untuk menggandakan ekspor dari US$ 100 miliar jadi US$ 200 miliar. Bahkan, Arab Saudi saja butuh 26 tahun untuk penggandaan ekspor. "Wajar saja karena yang diekspor kebanyakan hanya minyak," kata dia.
Adapun Indonesia, baru menargetkan nilai ekspor mencapai US$ 200 miliar pada tahun ini. Optimisme Deddy berdasarkan data ekspor selama semester pertama 2011 yang mencapai US$ 98,64 miliar. Sehingga, apabila kinerja ekspor pada semester kedua sama dengan paruh pertama 2011, maka ekspor bisa mencapai US$ 200 miliar. "Apalagi, jika melihat tren, biasanya pada semester kedua nilai ekspornya lebih tinggi dari semester pertama," ujarnya
Jika ekspor tahun ini bisa capai US$ 200 miliar, maka Indonesia hanya butuh 5 tahun untuk menggandakan nilai ekspor. "Terakhir kali ekspor kita mencapai US$ 100 miliar terjadi pada 2006," kata Deddy. Artinya, Indonesia sudah bisa dikatakan bersaing dengan Brasil dan India. Kedua negara berkembang itu juga berhasil menggandakan ekspor dalam 5 tahun.
Apabila nilai ekspor itu tercapai, maka kinerja Indonesia lebih baik dari negara tetangga seperti Cina, Malaysia dan Singapura. "Cina butuh 6 tahun untuk menggandakan ekspor sampai US$ 200 miliar," kata dia. Sementara Singapura dan Malaysia masing-masing butuh 10 tahun dan 7 tahun.
EKA UTAMI APRILIA





