TEMPO/Nita Dian
Topik
Infografis
Kereta Batubara Tabrak Stasiun Way Tuba, Lampung
TEMPO.CO, Bandar Lampung - Kereta api pengangkut batu bara atau kereta batu bara rangkaian panjang (babaranjang), Senin dinihari, 15 Agustus 2011, mengalami kecelakaan di Stasiun Kereta Api Way Tuba, Way Kanan.
Kereta Babaranjang yang mengangkut puluhan ribu ton batu bara yang berangkat dari Bukit Asam itu anjlok satu kilometer sebelum stasiun. “Kereta tetap melaju dan baru berhenti setelah menabrak bangunan ruang tunggu stasiun hingga hancur,” kata Maslia, salah seorang saksi mata kepada wartawan, Senin siang, 15 Agustus 2011.
Kecelakaan yang terjadi pukul 03.00 WIB itu membuat puluhan warga di sekitar stasiun terbangun dan keluar rumah. Warga yang sedang mempersiapkan makan sahur kaget dan panik menyelematkan diri karena khawatir kereta api itu menyasar permukiman mereka.
Kereta juga menggilas 6 sepeda motor milik warga yang diparkir di dekat stasiun. Para pemilik kendaraan sedang menunggu kedatangan kereta penumpang. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.
Kecelakaan tersebut mengakibatkan jadwal keberangkatan kereta api Rajabasa Ekspres dari Stasiun Tanjung Karang, Bandar Lampung, yang hendak menuju Palembang, Sumatera Selatan, molor hingga dua setengah jam lebih. “Kereta api Limex Sriwijaya dari arah Palembang juga terlambat datang di Tanjung Karang. Kami masih berupaya mengevakuasi gerbong yang menghalangi lalu lintas kereta api lain,” papar Manejer Humas PT. Kereta Api Sub Divisi Regional II.2 Tanjung Karang, Zakaria.
Menrut Zakaria, kereta api Rajabasa Ekspres yang seharusnya berangkat pukul 08.30 WIB baru bisa diberangkatkan pukul 11.15 WIB. Sementara kereta api Limex Sriwijaya yang seharusnya tiba di Tanjung Karang pukul 08.00 WIB, molor hingga pukul 11.00 WIB. “Sore nanti semua perjalanan kereta api, terutama kereta pengangkut batu bara dan bubur kertas, bisa kembali lancar,” ucapnya.
Saat ini tim dari PT. Kereta Api Sub Divisi Regional II.2 Tanjung Karang dan Sumatera Selatan masih memperbaiki rel kereta api yang rusak. Mereka juga mendata jumlah kerugian akibat kecelakaan tersebut. “Penyebab kecelakaan akan diteliti oleh para ahli dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi. Kita tunggu saja,” katanya.
NUROCHMAN ARRAZIE





