Menggantung Tikus di Pameran Poster Kemerdekaan


TEMPO.CO, Bandung - Gambar lambang negara itu terlihat tak biasa. Kaus merah tanpa lengan melekat di tubuh Garuda yang berwarna hitam putih. Pakaian itu bergambar perisai berisi Pancasila. "Burungnya tampil baru dengan kaus Pancasila," kata Yana Romanda alias Alo, pembuatnya. Poster itu menyambut pengunjung pameran poster kemerdekaan di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jawa Barat, yang digelar 16-18 Agustus 2011.


Sebanyak 45 poster berukuran kurang dari satu meter persegi memenuhi dinding ruangan gedung. Ada wajah Bung Tomo dengan gaya pidato yang terkenal itu di buku sejarah, juga ada proklamator Bung Karno dan Bung Hatta, serta sosok Presiden SBY yang dirombak. Semua bicara tentang Indonesia dan kemerdekaan. Kutipan Soekarno pun muncul dimana-mana.


Warna yang dipilih oleh 12 desainer gambar perusahaan kaos C-59 itu didominasi merah, putih, dan hitam sebagai latar atau penegas narasi tulisan. Simbol tikus yang digantung mengutarakan harapan penindakan koruptor yang lebih tegas di negeri ini.


Kerinduan kondisi Indonesia yang makmur dahulu kala diwakili Alo dengan boboko atau tempat nasi dari anyaman bambu. Berjudul Nasi On All Isme, poster itu menggelitik persoalan kebangsaan yang sebatas urusan perut saja atau nasib bangsa keseluruhan. "Kalau cuma untuk perut, bersiaplah hancur," katanya di sela pembukaan pameran.


Pameran untuk mengisi perayaan hari kemerdekaan di Gedung Indonesia Menggugat ini dipersiapkan singkat. Ide-ide lama dan baru langsung digarap dalam tiga hari. "Tadinya kita mau bikin pameran poster di kaos, tapi waktunya nggak keburu," kata pendiri sekaligus Presiden C-59 Marius Widyarto, 55 tahun.


Tema karya dibebaskan penggarapannya. Menurut lelaki yang akrab dipanggil Wiwied itu, kebebasan itu sebagai wujud kemerdekaan bagi para desainer kaosnya. Karya poster itu sebagian kemungkinan akan dituangkan ke kaos.


Rencananya, pameran serupa akan kembali digelar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober mendatang dengan tema dan desain berbeda. "Medianya akan pakai bahan kaos," ujarnya.


ANWAR SISWADI



Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X