foto

TEMPO/Prima Mulia

Merugi, BlueScope Rumahkan 1.000 Karyawan  

TEMPO.CO, Sydney - Perusahaan baja terbesar di Australia, BlueScope Steel Ltd, hari ini Senin, 22 Agustus 2011, mengumumkan bakal menutup dua fasilitas produksi dan merumahkan 1.000 pekerjanya. Ini dilakukan sebagai konsekuensi dari restrukturisasi. Tujuannya sebagai upaya memangkas kerugian tahunan yang mencapai AU$ 1,05 (dolar Australia) atau sekitar US$ 1,09 miliar.

Bluescope mengatakan akan menutup sebuah tanur di Pelabuhan Kembla di New South Wales dan menutup Pabrik Strip Panas dekat Pelabuhan Barat di negara bagian Victoria.

Penutupan Pelabuhan Kembla akan mengakibatkan hilangnya 800 pekerjaan, sedangkan 200 pekerja akan dipangkas di Pelabuhan Barat.

Menurut BlueScope, ratusan kontraktor dan pemasok juga akan terkena imbas dari penutupan tersebut.

Pada tahun fiskal yang berakhir 30 Juni lalu perusahaan melaporkan kerugian sebesar AU$ 1,05 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya perusahaan mendapat keuntungan AU$ 126 juta.

Bendaharawan Wayne Swan menyalahkan tingginya angka kehilangan pekerjaan di Australia. Selain itu, ekonomi tambal-sulam Australia di mana penambang memperoleh keuntungan berlipat dari peningkatan permintaan bahan baku dari Cina dan tempat lain di Asia. Sementara produsen tak mendapat apa-apa.

"Apa yang kita lihat adalah beberapa penyesuaian yang menyakitkan yang terjadi di bagian perekonomian kita," kata Swan kepada wartawan, hari ini.

Pemerintah menanggapi dengan mengucurkan paket bantuan sebesar AU$ 120 juta untuk membantu korban PHK mendapat pekerjaan baru dan daerah yang terkena dampak untuk menciptakan bisnis baru.

Paul Howes, Sekretaris Nasional Serikat Pekerja Australia yang mewakili banyak karyawan BlueScope, meminta Pemerintah Australia  menekan Beijing meningkatkan nilai yuan. Kritik terhadap kebijakan mata uang Beijing yang mengatakan yuan tetap rendah, sehingga sulit bagi eksportir di negara-negara lain untuk bersaing.

Kerugian yang diderita BlueScope disebabkan oleh nilai dolar Australia yang tinggi, harga baja rendah, dan tingginya biaya bahan baku. Kondisi ini diperparah oleh permintaan baja dalam negeri yang rendah.

"Kami mengalami tantangan ekonomi yang signifikan dan perubahan struktural dalam industri baja global," kata Kepala BlueScope Kraehe Graham dalam sebuah pernyataan.

Direktur Pelaksana BlueScope Paul O''Malley mengatakan pemangkasan unit ini akan memberikan material perbaikan pendapatan dan arus kas, mengurangi kerugian ekspor dan volatilitas laba. "Ini keputusan yang tepat untuk kelangsungan hidup jangka panjang dari bisnis kami," katanya.

Tahun fiskal lalu BlueScope melaporkan kerugian akibat ekspor mencapai AU$ 487 juta. Industri Australia Group, advokat bisnis, menggambarkan restrukturisasi BlueScope sebagai "berita mengerikan" bagi semua produsen Australia.

Kelompok CEO Heather Ridout meminta pemerintah untuk mengurangi beban pajak pada produsen yang menanggung beban ledakan mineral dan mata uang Australia yang kuat, yang melonjak mendekati rekor tertinggi terhadap dolar AS.

AP | ERWINDAR