Takbiran di Medan Diramaikan Pawai Kendaraan Hias

Takbiran di Medan Diramaikan Pawai Kendaraan Hias

Ribuan umat muslim di Mataram melakukan takbiran berkeliling kota melalui jalan-jalan protokol di Kota Mataram, NTB, Sabtu (19/9). Takbiran tersebut dilakukan untuk menyambut hari raya Idul Fitri 1430 H yang jatuh pada hari Minggu (20/9). FOTO ANTARA/Ahmad Subaidi

TEMPO.CO, MEDAN - Setelah sempat kecele dan akhirnya batal, Gema Takbiran dengan pawai keliling kota akhirnya digelar di Kota Medan, usai Maghrib Selasa malam 30 Agustus 2011. Meski cuaca kurang bersahabat karena gerimis, ratusan kendaraan hias akhirnya berpawai keliling sambil melantunkan gema takbir.

Ada 151 kelurahan dan 21 kecamatan di ibukota Sumatera Utara yang ikut serta menghias mobil dalam aneka bentuk. Dari mulai mobil dengan replika Masjid, kuba Masjid hingga replika, ketupat akan diarak dalam pawai takbir.


Seluruh kendaraan hias berkumpul di Lapangan Merdeka Medan. " Malam ini pawai takbiran kenderaan hias akan dikawal sekitar 800 polisi agar berlangsung aman dan tertib,"kata Kepala Polisi Resor Kota Medan Komisaris Besar Tagam Sinaga, Selasa 30 Agustus 2011.



Adapun rute yang akan dilalui peserta pawai takbiran setelah start di Lapangan Merdeka, Jalan Putri Hijau, Adam Malik, Ring Road hingga berakhir di Stadion Telada Medan. Peserta takbiran kurang lebih menempuh 8 kilometer perjalanan. " Peserta tidak diperkenankan membawa petasan atau benda berbahaya lainnya,"kata Komisaris Besar Tagam.

Walikota Medan Rahudman Harahap melepas pawai. Kemarin malam, peserta pawai yang sama akan memulai takbiran dengan kenderaan hias. Namun setelah pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu 31 Agustus 2011, pawai batal dilakukan.


"Malam ini malam takbiran dipusatkan di Lapangan Merdeka. Pemerintah Kota Medan sengaja membuat takbiran ini dengan mobil dan kenderaan hias lainnya agar terlihat menarik sehingga tidak ada pawai takbiran dalam bentuk lain. Saya berharap malam ini warga Kota Medan beramai-ramai memeriahkan takbiran,"kata Harahap.

SAHAT SIMATUPANG

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X