foto

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) beserta keluarga mendapat ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri dari sejumlah orang penyandang tuna netra saat "Open House" dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H di Istana Negara, Jakarta, Rabu (31/8). (ANTARA/Widodo S. Jusuf)

Satu Warga Bekasi Pingsan, Setelah Ketemu SBY

TEMPO.CO, Jakarta -Seorang warga Bekasi, pingsan setelah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara Open House Istana, Rabu, sore. Eka, 24 tahun, langsung terkulai persis saat keluar dari pintu masuk Sekretariat Negara."Anak saya memang memiliki penyakit maag,"ujar Yuli, 50 tahun, ibu korban, Rabu, 31 Agustus 2011.



 



 



 



Menurutnya, keinginan anaknya untuk bertemu dengan SBY sudah diutarakannya jauh hari hari. Khusus hari ini, sejak pukul 04.00 pagi hari, Eka sudah berangkat ke Cikeas kediaman SBY hanya ingin bertatap muka. "Saya ke sana (Cikeas) ternyata tidak ada, katanya acaranya di Istana Jakarta, makanya langsung ke sini,"ujarnya.



 



 



 



Awalnya ia sempat mengurungkan niatnya untuk bertemu SBY, penyebabnya khawatir maagnya kambuh. Namun, kekhwatiran itu kandas karena ajakan rekan Eka asal Indramayu hingga akhirnya memaksakan diri berangkat ke Istana. "Pokoknya keinginan anak saya pengen sekali ketemu pa SBY itu saja,"ujarnya.



 



 



 



Eka ujar Yuli diakuinya memiliki rekam kesehatan kurang baik dalam lambungnya, ia sejak lama menderita penyakit maag akut, sehingga bila asupan makan telat, penyakit maagnya kerap kampuh kembali."Sulit sih karena dia memaksa terus berangkat,"ungkapnya.



 



 



 



Saat pingsan, perempuan yang mengenakan baju hitam dan celana jeans hitam, terlihat membuat shock ibunya. Soalnya perjalanan dia menuju pulang di Bekasi menjadi tersendat. Beberapa kali, tangannya mengusap kening dan pipinya, sambil sesekali memberikan penghangat kayu putih pada hidung Eka lewat sapu tangan yang dipegang Yuli. "bagaimana lagi, saya hanya bertiga, saya nunggu dulu dia hingga siuman,"ujarnya.



 



 



 



Hingga kini, Eka ditemani ibu dan adik perempuannya masih mendapatkan perawatan di dalam kendaraan darurat milik Palang Merah Indonesia yang sengaja di parkir di luar halaman istana.



 



 



 



JAYADI SUPRIADIN