Seorang model menonton TV 3D Sony dengan menggunakan kacamata 3D, di Tikyo (9/3). AP/Shizuo Kambayashi
Era 3D Tanpa Kacamata
TEMPO.CO, - Tahukah Anda kapan film tiga dimensi komersial pertama diputar di gedung bioskop? Itu terjadi pada 10 Juni 1915. Judul filmnya Jim The Penman dan ditayangkan di Astor Theater, New York, Amerika Serikat.
Ketika berkuasa, Nazi juga pernah mengadopsi teknologi "penglihatan" segala arah ini melalui film So Real You Can Touch It. Film berdurasi 30 menit itu dibuat di studio film perang Jerman, Universum Film.
Kesuksesan pembuatan film dengan format tiga dimensi ini tak lepas dari perkembangan teknologi pada kamera itu sendiri. Boleh percaya boleh tidak, kamera tiga dimensi sebenarnya sudah ada sejak 150 tahun lalu.
Adalah Charles Wheatstone, pada 1838, yang pertama kali mengemukakan bahwa manusia melihat dunia dalam bentuk tiga dimensi lantaran otak menerima dua gambar berbeda pada saat bersamaan.
Tiap mata, yang terpisah sekitar 75 milimeter, melihat benda dari perspektif sedikit berbeda. Itu sebabnya, menurut Wheatstone, manusia bisa melihat dunia dalam tiga dimensi, yakni membedakan jarak dan kedalaman.
Untuk membuktikan teorinya, Wheatstone menciptakan stereoscope, alat untuk melihat dua gambar sekaligus atau dikenal sebagai stereograph. Inilah yang menjadi cikal-bakal perkembangan teknologi tiga dimensi.
Di Indonesia, tayangan tiga dimensi sederhana sudah sampai ke rumah-rumah pada era 1990-an. Masih ingatkah Anda dengan film kartun Petualangan Remi yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta ketika itu?
Untuk menikmatinya, pemirsa masih harus menggunakan kacamata berbahan karton dengan lensa berwarna merah-biru agar dapat menciptakan ilusi pada mata kiri dan kanannya.
Tak lama berselang barulah ada bioskop yang menyediakan fasilitas untuk menyaksikan film tiga dimensi dengan kacamata yang lebih baik. Meskipun bobotnya masih terlalu berat, sehingga membebani mata dan kurang nyaman dipakai.
Sekarang sejumlah perusahaan elektronik mulai mengembangkan teknologi tiga dimensi di berbagai perangkat, mulai televisi, notebook, sampai telepon seluler pintar. Penggunaan kacamata pun perlahan mulai ditinggalkan supaya konsumen lebih leluasa dan nyaman dalam menikmati tayangan tiga dimensi.
Baru-baru ini LG, HTC, dan Toshiba memperkenalkan ponsel cerdas LG Optimus 3D, HTC 3D EVO, notebook Toshiba Qosmio F750, dan televisi Toshiba Regza GL1. Semua mampu menampilkan gambar tiga dimensi tanpa kacamata khusus.
Untuk menghidupkan gambar tanpa kacamata, setiap perangkat itu menggunakan lapisan khusus pada layar atau Film Patterned Retarder (FPR) guna membuat perspektif yang sedikit berbeda untuk mereproduksi efek 3D.
Namun ada kalanya jika sedikit saja sudut pandang bergeser, pengalaman menyaksikan tayangan 3D akan buyar. Bisa dibilang untuk saat ini wajar jika teknologi tiga dimensi dengan mata telanjang belum sempurna.
Bagi Anda penikmat gambar tiga dimensi, dengan atau tanpa kacamata, ada sedikit pesan khusus. Sebuah studi yang dilakukan oleh California State University di Dominguez Hills menunjukkan bahwa penonton tayangan 3D berpeluang tiga kali lipat mengalami mata lelah, pusing, atau bermasalah dengan penglihatan.
Pekan lalu, LG juga merilis monitor 3D yang diklaim nyaman di mata, lebih cerah, dan bebas dari kedipan (flicker free). Meskipun monitor seri LG D2342P ini masih mempertahankan kacamata, Product Manager of Monitor PT LG Electronics Indonesia, Susanto, mengatakan ini hanyalah alat bantu supaya kedua mata menangkap sinyal dari monitor secara bersamaan.
| RINI KUSTIANI | TJANDRA DEWI | FIRMAN | BERBAGAI SUMBER





