Mari Elka Pangestu. TEMPO/Imam Sukamto
Topik
Indonesia Waspadai Melemahnya Ekonomi Global
TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia mewaspadai dampak tidak langsung dari pelemahan perekonomian dunia. Sebab, tujuan mitra dagang utama Indonesia, seperti Cina juga banyak berdagang dengan negara dan kawasan yang mengalami masalah ekonomi. "Sehingga, jika ada perlambatan ekonomi yang terjadi di Cina, maka juga akan berdampak kepada kita," kata Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu di Kantor Kementerian Perdagangan, Senin 5 September 2011.
Mari menyebutkan, berdasarkan data UN Comtrade hanya 8,6 persen ekspor Indonesia yang ditujukan ke Eropa. Sementara porsi ekspor ke Amerika hanya 9,1 persen. Jadi, jika terjadi perlambatan ekonomi di kedua kawasan, dampaknya pada perdagangan Indonesia, masih di bawah 20 persen.
Adapun ekspor Indonesia lebih banyak ditujukan ke negara-negara ASEAN, Cina, Australia dan beberapa negara lain di kawasan Asia Pasifik lainnya. Porsi ekspor ke kawasan ini mencapai 50-60 persen. Pangsa ekspor Indonesia yang ditujukan ke Cina saja mencapai 9,9 persen. Sementara ekspor Indonesia ke India mencapai 6,3 persen.
Tapi, perdagangan Cina dan Eropa cukup tinggi. Ekspor Cina ke kawasan itu mencapai 16,4 persen. Ekspor Cina ke Amerika mencapai 18 persen.
India pun cukup tergantung dengan mitra dagangnya, Eropa dan Amerika. Ekspor India yang ditujukan ke Eropa mencapai 20,4 persen. Sementara pangsa ekspor India ke Amerika mencapai 10,8 persen.
Jadi, jika perdagangan Cina dan India terpengaruh perlambatan ekonomi Eropa dan Amerika, maka imbasnya juga akan terkena ke Indonesia.
Namun, pemerintah bisa cukup tenang karena kedua negara itu sudah melakukan langkah-langkah menghindari perlambatan ekonomi. Contohnya Cina yang mengambil kebijakan menjaga inflasi dan akan meningkatkan permintaan dari dalam negeri sendiri. "Mereka juga punya cukup punya kekuatan untuk memberi stimulus fiskal," kata dia.
Sementara, ekspor Indonesia ke India juga bisa dipertahankan karena kebanyakan komoditas yang dikirim ke negara itu sifatnya primer. Seperti minyak sawit yang menjadi kebutuhan dasar di India.
Selain itu, pemerintah sudah mengantisipasi jika kondisi itu terjadi. Caranya, dengan melakukan diversifikasi pasar ke negara berkembang yang pertumbuhannya tinggi. Antara lain, negara ASEAN seperti Vietnam, negara-negara Timur Tengah, Amerika Latin dan Afrika.
Selain itu, saat ini, sudah ada relokasi berbagai pabrik dari Cina ke Indonesia. Sehingga, tetap bisa pertahankan permintaan ekspor tetap terjaga.
EKA UTAMI APRILIA





