Dari Mendur untuk Sejarah

Dari Mendur untuk Sejarah

Pameran Foto karya Mendur Bersaudara di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta, (19/8). ANTARA/ Dhoni Setiawan

TEMPO.CO, Jakarta - Jakarta, 29 Desember 1949. Fotografer Alex Mendur berdiri di tangga Istana Rijswijk (sekarang Istana Merdeka). Hari itu, ribuan manusia menyemut bersiap menyambut kedatangan Sukarno. Alex mengambil posisi tepat di depan podium tempat sang presiden berpidato. Hari itu dia tidak sendiri. Di susur tangga istana, di lokasi berbeda, Frans Umbas juga bersiap mengabadikan momen bersejarah itu dengan kamera Bush-Pressman 6x9 yang baru dibelinya dari fotografer Johnny Waworuntu.

Ketika Sukarno dan rombongan tiba, mereka bergerak cepat memotret peristiwa itu. Hasilnya adalah beberapa foto Sukarno di antara lautan manusia dengan beragam sudut pandang berbeda. Foto-foto gegap-gempita ribuan orang menyambut kedatangan Sukarno ke Jakarta setelah tersingkir ke pengasingan di Yogyakarta itu terselip di antara foto-foto yang dipamerkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta, sebulan penuh mulai 19 Agustus hingga 19 September mendatang. Bertajuk Dari Pegangsaan sampai Rijswijk, pameran memajang 66 foto bersejarah karya Frans Sumarto Mendur dan Alexius Impurung Mendur serta beberapa pewarta foto yang tergabung dalam Indonesian Press Photo Service (IPPHOS Coy Ltd).

Kakak-adik Alex dan Frans Mendur adalah putra daerah Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Alex Mendur lahir pada 1907, sedangkan adiknya, Frans Mendur, lahir pada 1913. Frans belajar fotografi kepada Alex yang sudah lebih dulu menjadi wartawan Java Bode, koran berbahasa Belanda di Jakarta. Frans lantas mengikuti jejak abangnya menjadi wartawan pada 1935.

Alex dan Frans mendapat kesempatan mengabadikan detik-detik pembacaan naskah proklamasi di rumah Sukarno, Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Foto Sukarno yang sedang membaca naskah proklamasi dan foto pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota Pembela Tanah Air (Peta), serta suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera itu adalah karya masterpiece Frans Mendur.

Frans berhasil menyelamatkan hasil bidikannya itu dari tangan Jepang. Negatif foto-foto bersejarah itu dia sembunyikan dengan cara menguburnya di bawah pohon, di halaman kantor harian Asia Raya. Kepada tentara Jepang dia berbohong dengan mengatakan semua foto karyanya sudah dirampas Barisan Pelopor. Namun nasib nahas menimpa Alex. Semua hasil bidikannya dirampas dan dihancurkan tentara Jepang. Walhasil, hanya foto-foto Frans yang menjadi bukti peristiwa bersejarah itu.

Frans dan Alex tidak hanya mengabadikan peristiwa bersejarah 17 Agustus 1945 itu. Jauh sebelum dan sesudahnya, banyak peristiwa serta romantika jalannya revolusi kelahiran bangsa Indonesia yang dapat direkam oleh mereka berdua. Frans, yang dikenal gesit serta pemberani, juga menjadi satu-satunya juru foto yang berhasil mengabadikan pertemuan kembali Sukarno dan Hatta saat Sukarno mendarat di Pasar Ikan dari tempat pembuangannya di Sumatera. Alex sendiri berhasil mengabadikan foto Bung Tomo saat berpidato di lapangan Mojokerto dalam rangka mengumpulkan pakaian untuk korban perang di Surabaya. Foto itu dipublikasikan pertama kali di majalah dwibahasa Mandarin-Indonesia, Nanjang Post, edisi Februari 1947.

Frans dan Alex merintis pendirian IPPHOS pada 2 Oktober 1946 di Jakarta bersama kakak-adik Justus dan Frans "Nyong" Umbas, Alex Mamusung, serta Oscar Ganda. Foto-foto fotografer IPPHOS ini di kemudian hari banyak dimuat dalam buku-buku sejarah. Namun masih banyak foto mereka yang belum dipublikasikan. Foto-foto yang dipamerkan kali ini merupakan rangkaian goresan visual yang merangkum peristiwa sejarah mulai dari detik-detik proklamasi itu. Sebagian besar koleksi yang dipajang adalah karya yang jarang dipublikasikan.

Tengok saja foto Sukarno ketika berlibur dengan keluarganya. Dengan caption singkat, "Presiden Soekarno & Ibu Fatmawati di desa, Juni 1947", foto itu memperlihatkan Sukarno dalam sosoknya yang lain. Dikawal seorang prajurit bersenjata laras panjang, Sukarno duduk santai sambil menggendong Guntur kecil di atas getek--perahu kecil yang terbuat dari susunan bambu.

Mengenakan kemeja lengan pendek dan bertopi bundar, Sukarno tampil sebagai seorang bapak yang hangat. Kesan serupa juga terlihat pada foto Hatta yang sedang duduk menikmati secangkir kopi dan kudapan sambil memangku salah seorang putrinya. Foto itu diambil ketika Hatta dan keluarga tengah berada di Kaliurang pada Januari 1947.

Oscar Motuloh, yang mengkuratori pameran tersebut, menjelaskan bahwa 66 foto bersejarah itu bukan sekadar dokumentasi rekam jejak sejarah negeri ini sejak kelahirannya hingga lima tahun kemudian, yang ditandai oleh potret Sukarno di halaman Istana Merdeka. Namun yang lebih penting, foto-foto itu memperlihatkan kemesraan hubungan antara pewarta foto dan para petinggi negeri. Bung Karno bahkan biasa mengajak Frans dan Alex sarapan pagi. Persahabatan dan rasa saling menghormati ini memungkinkan para juru foto itu membuat potret-potret eksklusif dan dramatis tersebut. Begitu personal dan intim.

NUNUY NURHAYATI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan