Penumpang turun dari bus di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, pada masa Arus Balik, Selasa (14/9). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memprediksi, jumlah pendatang baru yang memasuki Jakarta pada arus balik Lebaran kali ini sekitar 60 ribu orang atau lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang sebanyak 69.554 orang. TEMPO/Seto Wardhana
Infografis
Pendatang Baru Incar Sektor Informal
TEMPO.CO, Jakarta - Rencana pemerintah DKI Jakarta menggelar operasi yustisi kependudukan tidak menyurutkan langkah para pendatang baru untuk mengadu untung di Ibu Kota. Para pendatang tetap nekat mencari pekerjaan di Jakarta meski tak memiliki keahlian khusus. "Kalau di kampung, saya menganggur, tidak ada pekerjaan," kata Ismi Utami, 19 tahun, pendatang asal Ngawi, Jawa Timur, kemarin.
Ismi baru tiba beberapa hari di Jakarta bersama beberapa teman sekampungnya. Mereka tinggal di rumah petak di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. "Kalau di Jakarta, barangkali bisa mendapat pekerjaan sebagai pembantu, jadi bisa mengumpulkan duit," kata gadis yang hanya tamat sekolah menengah pertama itu.
Alasan yang sama disampaikan oleh Mariatun, 17 tahun, asal Lampung. Ia memilih meninggalkan pekerjaan sebagai petani dan mengadu nasib di Jakarta. "Saya diajak tetangga untuk menjadi babysitter (perawat bayi)," kata Mariatun, yang mengaku baru sehari berada di Jakarta dan belum pernah mendapat pelatihan untuk merawat bayi.
Permintaan tenaga kerja untuk mengisi sektor informal--terutama sebagai pembantu rumah tangga dan perawat bayi--di Jakarta memang tinggi pasca-Lebaran. "Kami benar-benar kekurangan tenaga kerja," kata Ruminah, pemilik usaha penyalur pembantu dan perawat bayi Bu Gito.
Menurut Ruminah, fenomena pasca-Lebaran ini muncul hampir setiap tahun. Sebab, sebagian besar pekerja rumah tangga dan perawat bayi pulang kampung saat Lebaran. Setelah Lebaran, mereka tidak segera kembali ke Jakarta dengan bermacam alasan. "Umumnya mereka menunda keberangkatan karena tarif angkutan masih mahal," tuturnya.
Dia mengatakan saat ini saja perusahaannya menerima 200 permintaan baru untuk tenaga perawat bayi. Jumlah itu belum termasuk kebutuhan konsumen reguler yang biasa mendapat layanan dari perusahaannya. Begitu juga dengan tenaga pembantu rumah tangga. "Untuk bulan ini saja sudah ada 500 permintaan," kata dia. Dia yakin permintaan itu akan terus bertambah.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta Purba Hutapea mengatakan pemerintah berencana menggelar tiga kali operasi yustisi kependudukan setelah Lebaran. Tujuannya adalah mengendalikan jumlah pendatang baru yang masuk Ibu Kota setiap Lebaran usai.
Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemerintahan DKI Jakarta, Sylviana Murni, mengatakan pemerintah DKI Jakarta tidak melarang kehadiran pendatang baru asalkan memenuhi aturan kependudukan. "Dan sebaiknya mereka memiliki keahlian tertentu, punya penghasilan tetap, dan tempat tinggal tetap," kata dia.
Langkah yang sama dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Rencananya operasi digelar akhir September ini. "Operasi yustisi ini untuk mendata para pendatang baru," ujar Kepala Seksi Pengawasan dan Penyuluhan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tangerang Ahmad Sujai.
Operasi di Tangerang itu difokuskan di wilayah yang menjadi pusat industri, di antaranya Kecamatan Cikupa, Balaraja, Curug, Pasar Kemis, dan Tigaraksa. "Daerah-daerah itu merupakan pusat para pendatang," kata Ahmad.
ARIE FIRDAUS | JAYADI SUPRIADIN | JONIANSYAH | CORNILA DESYANA | SUSENO





