foto

Sri Sultan Hamengku Buwono X. TEMPO/Arif Wibowo

Sultan: Hak Surya Paloh Keluar dari Golkar

TEMPO.CO, YOGYAKARTA - Mantan Anggota Dewan Penasihat Partai Golongan Karya (Golkar), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menghormati keputusan pengunduran diri Surya Paloh sebagai kader Partai Golkar.

"Itu hak asasi masing-masing kader. Menurut kami, tidak ada masalah, bertahan tidak masalah, mundur juga tidak masalah. Sekali lagi, itu hak setiap kader," kata Sultan HB X di Yogayakarta, Kamis 8 September 2011.



Meski begitu, Sultan menegaskan kalau pilihan Surya Paloh bertahan di Nasional Demokrat tidak bisa ditolerir Partai Golkar. Sehingga diberikan dua pilihan, antara bertahan di Nasdem atau Golkar.  “Seperti itu tidak bisa ditolerir partai,” kata Sultan.



Menurut Sultan, ada perbedaan penilaian antara partai Golkar dan Partai Nasional Demokrat dalam melihat organisasi masyarakat Nasional Demokrat. “Masalahnya kan antara partai Nasdem dan ormas dianggap sama. Hanya belum diakui bahwa ormas Nasdem adalah menjadi bagian dari partai (Nasdem),” kata dia.

Dia mengatakan tak ada masalah Surya Paloh mundur dari Golkar. Tiap kader Golkar memiliki hak untuk bertahan atau mengundurkan diri. “Surya Paloh pilih di Nasdem,” kata dia.

Sebelumnya, Sultan Hamengku Buwono X dan Surya Paloh merupakan deklarator Nasdem. Pecah kongsi antara keduanya di Nasdem berlangsung sejak pertengahan tahun lalu. Melalui suratnya pada 6 Juli 2011, Sultan memilih mundur dari jabatan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan, Inisiator dan anggota Nasdem. Sultan keberatan dengan lahirnya partai Nasdem yang didaftarkan di Dinas Kesbang Linmas dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Saat ini, Sultan yang telah aktif dalam berbagai kampanye partai Golkar sejak tahun 1972, memilih tetap bertahan di partai Golkar. “Saya belum keluar, sampai sekarang masih punya kartu anggota (Golkar),” kata dia.



ANANG ZAKARIA