Simulasi pengamanan halal bihalal perguruan silat Persaudaraan Setia Hati (PSH) Tunas Muda Winongo di Kota Madiun, Jawa Timur. TEMPO/ISHOMUDDIN
Topik
Acara Halal Bihalal Perguruan Silat Madiun Dijaga Ketat
TEMPO.CO, Madiun - Acara halal bihalal perguruan silat Persaudaraan Setia Hati (PSH) Winongo Tunas Muda, Minggu, 11 September 2011, dijaga secara ketat oleh aparat keamanan gabungan dari kepolisian dan TNI. Tidak kurang dari 3.800 personel dilibatkan. Aparat kepolisian dikerahkan dari 10 markas Kepolisian Resor (Polres) yang diperkuat aparat Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur.
Polres yang dilibatkan, enam di antaranya adalah Polres di wilayah Rayon V yang berada di eks Karesidenan Madiun, seperti Polres Madiun Kota, Polres Madiun, Polres Magetan, Polres Ngawi, Polres Ponorogo, dan Polres Pacitan. Sedangkan empat Polres lainnya yakni Polres Nganjuk, Polres Kediri Kota, dan Polres Kediri (Kabupaten), serta Polres Jombang
Secara khusus Polda Jawa Timur juga menurunkan tiga satuan setingkat kompi (SSK) Brigade Mobil (Brimob), yakni dari Detasemen A, B, dan C.
Pengamanan juga melibatkan personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan setempat. Sejumlah perangkat pengamanan juga disiagakan. Di antaranya kendaraan aktis (rantis) kawat berduri (barrier), water canon, dan barracuda. ”Kami akan menindak tegas siapa saja yang melakukan gangguan keamanan,” kata Wakil Kepala Polda Jawa Timur, Brigadir Jenderal Polisi Eddi Sumantri, usai memimpin upacara gelar pasukan.
Acara yang digelar di padepokan pusat perguruan silat tersebut, di Jalan Doho 123, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, dihadiri ribuan anggota perguruan silat Persaudaraan Setia Hati (PSH) Winongo Tunas Muda.
Ketua Panitia Halal Bihalal PSH Winongo Tunas Muda, Shidiq Sapto Utomo, menjelaskan pihaknya mengundang 4.000 orang dari seluruh cabang yang ada di eks Karesidenan Madiun. “Tidak tertutup kemungkinan anggota juga dari luar Karesidenan Madiun juga hadir,” katanya kepada wartawan di tempat acara, Minggu, 11 September 2011.
Acara halal bihalal juga digabung dengan peringatan 1.000 hari kematian (haul) bekas pengasuh PSH Winongo Tunas Muda, Djimat Hendro Soewarno.
Adapun Ketua Umum PSH Winongo Tunas Muda, Agus Wijono Santoso, mengatakan PSH Winongo Tunas Muda memiliki 25 cabang di hampir seluruh provinsi se-Indonesia. Bahkan sudah ada cabang di Timor Leste dan Belanda. “Halal bihalal dan haul ini merupakan bagian dari silaturahim antarsaudara sesama anggota PSH Winongo Tunas Muda,” ujarnya.
Sementara itu pengasuh PSH Winongo Tunas Muda, Budi Aji Santoso, dalam sambutannya mengimbau agar anggota PSH Winongo Tunas Muda menjaga keyakinan agama dan ajaran PSH Winongo Tunas Muda. “Kita harus menjaga iman dan takwa serta melestarikan ajaran SH dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ucapnya.
Ketua Umum PSH Winongo Tunas Muda, Agus Wijono Santoso, mengatakan pihaknya sudah mengimbau seluruh anggota agar menjaga ketertiban. “Kalau perlu tidak usah konvoi. Seandainya konvoi harus memakai helm dan perlengkapan surat kendaraan,” ujarnya.
Namun aparat keamanan tampaknya tidak ingin kecolongan. Berdasarkan data yang dihimpun Tempo, anggota perguruan silat ini kerap melakukan keonaran.
Pada 19 Desember 2010 lalu, belasan rumah di Kelurahan Sukosari, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, menjadi sasaran aksi pelemparan antara anggota perguruan silat PSH Winongo Tunas Muda dan PSH Terate.
Aksi dilakukan saat melakukan konvoi pada acara peringatan bulan Sura atau awal tahun Hijriah yang biasa disebut “Suran Agung” (Sura Agung).
Aksi saling lempar batu juga terjadi di lokasi lain. Di antaranya di Jalan Raya Madiun-Ponorogo, perempatan Desa Kaibon, Desa Sangen, dan Desa Slambur, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun.
Aksi serupa juga terjadi tahun-tahun sebelumnya. Para peringatan Suran Agung, Minggu, 27 Desember 2009, puluhan pesilat Setia Hati Winongo terlibat bentrok dengan warga Desa Kincang, Kecamatan Jiwan. Tiga rumah rusak akibat menjadi sasaran pelemparan oleh para pesilat. Satu unit sepeda motor Supra-X bernomor polisi AE 5723 JS yang diduga milik pesilat yang melarikan diri juga rusak.
Aksi brutal juga kerap dilakukan anggota perguruan silat lainnya. Bahkan terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur.
Sabtu, 2 Mei 2009, massa dari perguruan silat Setia Hati Teratai terlibat tawuran dengan massa Pagar Nusa di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro. Satu orang tewas, dan lima orang mengalami luka berat dan ringan. Polisi menyita sejumlah barang bukti berupa celurit, gobang, dan berbagai jenis senjata tajam lainnya.
Tawuran yang dipicu saling cekcok di antara kedua massa itu terjadi saat berlangsung pertunjukan musik dangdut di lapangan olahraga di Desa Ngasem.
Berdasarkan data Polres Bojonegoro, perkelahian antarperguruan silat juga terjadi di Desa Sumurgung, Kecamatan Sumberejo, 4 April 2009. Seorang korban, Hari Susanto, 24 tahun, mengalami luka bacok. Kemudian, Kamis, 29 Mei 2009, tawuran terjadi di Desa Bungur, Kecamatan Kanor. Yitno, 17 tahun, dan Hariyanto,18, juga mengalami luka bacok.
Pihak Polres serta Komando Distrik Militer (Kodim) Bojonegoro telah berulang kali memfasilitasi perdamaian di antara masing-masing pihak, termasuk memanggil para pimpinan perguruan silat. Namun kerusuhan tetap saja terulang.
Di Kabupaten Tulungagung, puluhan pendekar perguruan silat Setia Hati Teratai, Minggu dini hari, 19 Desember 2010, mengamuk sambil merusak rumah warga di Desa Suruhan Kidul, Kecamatan Bandung.
Aksi anarkistis pendekar silat ini mengejutkan warga yang tengah terlelap tidur. Puluhan pemuda berseragam perguruan silat Setia Hati (SH) Teratai dengan menggunakan sepeda motor tiba-tiba mendatangi permukiman warga. Selanjutnya secara membabi buta mereka melempari rumah warga dengan batu sebelum melarikan diri.
Sesaat sebelumnya berlangsung pelantikan pendekar perguruan silat SH Teratai di Stadion Bandung, tak jauh dari permukiman warga yang menjadi korban penyerangan.
Para pendekar silat Teratai, Minggu malam, 20 Desember 2010, juga terlibat tawuran dengan warga Kecamatan Candi, Kabupaten Jombang. Aksi tawuran terjadi ketika para pendekar melakukan konvoi beberapa saat setelah mengikuti acara tasyakuran dan pengukuhan anggota di Gedung Olah Raga (GOR) Merdeka Jombang.
Secara brutal sejumlah pendekar mengeroyok beberapa warga yang duduk-duduk di pinggir Jalan Kemuning. Polisi harus dikerahkan untuk mengamankan situasi.
Pengurus cabang perguruan silat Teratai Jombang, Jumani, mengatakan para pendekarnya tidak mungkin anarkistis jika tidak ada sebab yang memicunya. Dia menduga ada provokasi dari pihak-pihak yang tidak senang terhadap organisasinya.
ISHOMUDDIN | SUJATMIKO | HARI TRI WASONO | MUHAMMAD TAUFIK





