foto

Dua rangkaian kereta api terjebak banjir di stasiun kereta api Trenton, New Jersey, Minggu (28/8), Hujan dan Badai Irene yang menyebabkan banjir. AP/Mel Evans

Pendapatan PT KA Selama Masa Lebaran Hanya Naik Sedikit  

TEMPO.CO, Jakarta - Pendapatan PT Kereta Api (Persero) selama masa Lebaran meningkat meski tak terlalu banyak dibanding tahun lalu. Selama masa angkutan Lebaran 20 hari (Agustus-11September), pendapatan PT KA mencapai Rp 209,5 miliar, naik sedikit dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 207,4 miliar. Menurut Vice President Public Relations PT KA, Sugeng Priyono, meski hanya naik sedikit, kenaikan ini dinilai bagus karena jumlah penumpang sebetulnya turun. “Turun hingga 17 persen,” ujarnya, dalam konferensi pers dengan wartawan, Senin 12 September 2011 di Jakarta. Sugeng berdalih, PT KA tak menaikkan harga, tapi memakai mekanisme batas atas dan bawah.

Menurut Direktur Utama PT KA Ignatius Jonan, penumpang yang menggunakan angkutan kereta api pada Lebaran mencapai 2.553.314 orang, turun dibanding tahun lalu yang mencapai 3.081.532 orang. Turunnya jumlah penumpang ini terjadi pada semua kelas. “Kelas eksekutif turun 3 persen,” kata dia dalam kesempatan yang sama. Saat angkutan Lebaran dimulai, 34 gerbong yang masih diperbaiki, sehingga pengoperasian terlambat. Di kelas bisnis penurunan mencapai 4 persen. Itu terjadi karena 50 gerbong dipakai untuk barang. Adapun kelas ekonomi turun 10 persen. “Sebenarnya jumlah kereta tak berkurang. Hanya, mulai tahun ini kami patuhi ketentuan pemerintah yang membatasi penumpang, 150 persen dari daya angkut,” kata dia.

Turunnya jumlah penumpang ini karena ada pembatasan daya angkut kereta. Daya angkut dibatasi untuk tiap kelasnya. Untuk kelas eksekutif maksimal daya angkut 100 persen dari tempat duduk. Untuk kelas bisnis maksimal daya angkut 125 persen dari tempat duduk. Untuk kelas ekonomi komersil maksimal daya angkut 125 persen dari tempat duduk. Untuk kelas ekonomi maksimal daya angkut 150 persen dari tempat duduk.

Puncak arus mudik terjadi pada H-2 (28 Agustus) dengan 115 ribu penumpang dan puncak arus balik terjadi pada H+2 (2 September) dengan 146 ribu penumpang. Selama arus mudik ini armada yang dikerahkan meliputi 226 kereta terdiri dari 198 kereta reguler dan 28 kereta tambahan dengan kapasitas 93.510 tempat duduk. Pada setiap kereta kelas ekonomi ditambah satu gerbong barang untuk mengangkut sepeda motor, yang kira-kira bisa memuat 50 sepeda motor. Selama angkutan Lebaran 2011 hanya mengangkut 2.012 motor.

Berdasar penyelenggaraan, keterlambatan rata-rata kereta reguler mencapai 50 menit dengan rekor paling telat KA Sri Tanjung yang telat 131 menit. Sedangkan untuk KA Tambahan rata-rata telat 66 menit. Rekor paling telat dipegang oleh KA Gajah Wong, 158 menit.
Ignasius menyatakan keterlambatan ini karena tingkat naik turun penumpang tinggi dan banyaknya barang bawaan. “Jadi pergerakan kereta jadi lambat,” ujarnya. Selain itu, di Jawa ada 6.000 perlintasan liar. “Ini juga menghambat perjalanan KA,” ujarnya. Di kota-kota di Jawa penambahan aktivitas sebanyak 30 persen.

Di masa mendatang PT KA berharap untuk layanan kelas ekonomi dilakukan dengan sistem boarding (tanpa ada yang berdiri) dan pelayanan tiket yang bisa dibeli sejak 40 hari sebelumnya. “Agar penumpang tak rebutan masuk kereta,” ujarnya.

NUR ROCHMI