ANTARA/Rosa Panggabean
Blackberry Diusulkan Kena Cukai
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Komisi Keuangan Dewan Perwakilan rakyat Achsanul Qosasih mengusulkan disinsentif tarif Black Berry melalui cukai. “Blackberry harus dikenakan cukai, karena cukainya masih nol,” katanya. Politikus Partai demokrat ini mendorong pemerintah mengeluarkan kebijakan disinsentif tarif pada produk milik Reaearc In Motion dari Kanada ini.
Sebelumnya pemerintah merasa kecolongan dengan pembangunan pabrik Blackberry di Malaysia. Kepala Badan Koordinasii Penanaman Modal Gita Wirjawan mengatakan RIM seharusnya membangun pabrik di Indonesia lantaran konsumen Indonesia jauh lebih besar dari malaysia. Penjualan black berry tahun depan diprediksi mencapai 4 juta unit per tahun di Indonesia sedangkan di Malaysia penjualan black berry hanya 400 ribu unit per tahun. Dari penjualan itu RIM akan mengantongi pendapatan US 1,2 miliar dolar.
Menurut Achsanul pemerintah bisa menerapkan tarif perdagangan bebas yang tidak menerapkan tarif Rp 0 untuk bea masuk. “Ada mekanisme lain,” ujarnya. Achsanul menilai sulit meninjau ulang perjanjian perdagangan bebas. Namun pemerintah, lanjut dia, harus mencari cara agar masuknya black berry tidak hanya menguntungkan produsen tapi merugikan Indonesia.
Achsanul menilai pemerintah bisa saja memberikan disiinsentif tarif dengan konsekuensi memperpendek birokrasi. Menurut dia bea masuk nol rupiah berkonsekuensi pemeriksaan, perizinan yang tidak disukai pengusaha. “Misalnya dikasih disinsentif satu persen tapi tidak perlu diperiksa,” katanya.
AKBAR TRI KURNIAWAN





