foto

TEMPO/Imam Sukamto

Sutanto Minta Pemberitaan Soal Ambon Direm  

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Intelijen Negara Sutanto meminta pers agar mengerem pemberitaan kasus bentrok di Kota Ambon yang terjadi Ahad lalu. "Peran media juga harusnya ikut menjaga, jangan sampai memperkeruh situasi," ujar dia sebelum rapat dengar pendapat dengan Komisi Pertahanan dan Luar Negeri DPR, Selasa, 13 September 2011.

Sebagai Kepala BIN, Sutanto mengaku sengaja tidak banyak berkomentar soal bentrok Ambon agar tidak semakin memperkeruh situasi keamanan yang sudah mulai kondusif. "Tugas BIN jangan membuat berita-berita yang menyesatkan. Kita harus berempati," ujar dia.

Sutanto enggan menanggapi tudingan yang menyebutkan pihak intelijen kecolongan dalam insiden bentrok Ambon. Ia menegaskan intelijen akan tetap fokus menjalankan tugasnya di bidang pencegahan terjadinya ancaman keamanan. "Daerah-daerah rawan tetap jadi perhatian, apalagi yang terkait dengan masa-masa lalu, itu jadi perhatian utama," kata mantan Kepala Polri ini.

Bentrokan di Ambon dipicu oleh informasi yang tersebar melalui pesan pendek yang menyebutkan bahwa meninggalnya seorang tukang ojek, Darfing Saiman, karena dibunuh pada Sabtu lalu. Sebelumnya, beredar kabar bahwa ia dibunuh di kawasan Gunung Nona, Kudamati, Ambon, ketika mengantar seorang penumpang ke kawasan itu.

Pesan pendek ini kemudian memanaskan situasi sehingga berujung bentrokan. Seusai pemakaman korban pada Minggu, massa marah dan menghentikan serta melempari kendaraan di sekitar kawasan tersebut. Aksi lempar batu antarwarga terjadi di kawasan Batugantung dan Waehaong serta Simpang Empat Trikora.

MAHARDIKA SATRIA HADI