foto

TEMPO/Seto Wardhana

Saan Mustafa Bantah Terima Rp 500 juta dari Nazar

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Saan Mustafa mengakui pernah menandatangani kuitansi senilai US$ 50 ribu dari Nazarudin pada 12 Agustus 2008. Namun dia menampik telah mengambil uang tersebut. “Uang itu tidak jadi saya pakai, dan pada hari yang sama dibawa lagi (oleh Nazar),” ujar Saan saat dihubungi Jumat, 16 September 2011.

Pinjaman uang senilai Rp 500 juta itu menurut Saan merupakan inisiatif
dari Nazaruddin. Sebagai teman, Nazar menawarkan pinjaman uang untuk pemenangan pemilu legislatif 2009. Saat itu dalam proses pencalonan di internal partai. Saan berada pada nomor urut II calon anggota DPR RI daerah pemilihan Jawa Barat VII.

Nazar menawarkan sejumlah uang untuk mengusahakan Saan bisa menjadi nomor urut itu. Namun Saan mengaku tidak langsung mengiyakan menerima pinjaman itu,

Mengenai niat Nazar meminjamkan uang itu, Saan menyebut hanya tiba-tiba dan mendadak. “Hanya muncul saat berbincang-bincang di kantornya saja.”

Suatu hari pada Agustus 2008 Saan mendatangi kantor Nazaruddin di bilangan Casablanca. Ketika sampai di sana, sudah ada Anas Urbaningrum, Nazaruddin, dan beberapa anggota Demokrat lainnya. Saat itu Saan sudah terdaftar sebagai calon anggota legislatif nomor urut II dari partai Demokrat untuk wilayah pemilihan Jawa Barat VII.

Setelah beberapa lama berbincang tentang beberapa hal di antaranya upaya pemenangan Saan, Nazar menawarkan Saan pinjaman senilai US$ 50 ribu. Uang itu kata Nazar bisa digunakan untuk menjadikan Saan berada di nomor urut I, supaya peluang untuk menang lebih besar. “Uang ini bisa digunakan untuk berjaga-jaga,” ujar Saan mengulang perkataan Nazar ketika itu.

Meski awalnya agak ragu, Saan pun kemudian sepakat dan menandatangani selembar kuitansi. Setelah ditandatangani kuitansi itu langsung disimpan oleh Neneng Sri Wahyuni istri Nazar. “Saya setelah itu tidak peduli dengan kuitansi itu, karena sebagai aktivis saya sudah percaya saja dan saya tidak berpikir macam-macam ketika itu,” ujar Saan. Ketika ditanya kenapa tiba-tiba mau menandatangani pinjaman yang lumayan besar, Saan berdalih karena dia percaya saja sebagai teman.

Setelah menandatangani kuitansi, Saan, Anas, Nazar pun pergi ke suatu tempat. Menurut Saan, saat itu uang senilai yang dijanjikan masih berada di tangan Nazar. Sejak awal Saan sudah ragu untuk mengambil uang itu. “Saya berpikir sebenarnya meski di nomor urut II saya yakin
tetap akan menang, karena saya sudah mulai bekerja untuk pemilu itu sejak 2006,” ujarnya.

Selain itu, dia mengaku mulai mempertimbangkan rencana MK untuk mengeluarkan keputusan bahwa pemenang pemilu tidak ditentukan nomor urut tetapi berdasarkan suara terbanyak. Apalagi Demokrat kata dia sudah lebih dulu sepakat untuk menggunakan suara terbanyak. “Akhirnya duit itu tidak jadi saya bawa, dan dibawa lagi oleh Nazar,” katanya.

Saan mengaku bersyukur tidak jadi menerima duit dari Nazar itu. Pasalnya setelah itu MK mengeluarkan keputusan pemenang Pemilu ditetapkan berdasarkan suara terbanyak. "Saya berada di nomor urut mana pun yakin tetap akan menang, itu wilayah saya, banyak teman-teman saya di situ," ujarnya.

Menurut Saan selama proses kampanye hingga menang dia mengeluarkan biaya hingga Rp 700 juta. Uang itu disebut Saan berasal dari usahanya sendiri dan beberapa sumbangan dari teman-teman.

Ihwal keberadaan Anas di PT Anugrah Nusantara, Saan mengaku tidak pernah mengetahuinya. “Itu kan juga sudah dibantah sendiri oleh Mas Anas,” ujarnya.

Sejak penandatanganan kuitansi itu, Saan mengaku tidak pernah lagi berpikir macam-macam. “Tiba-tiba beberapa waktu lalu saya dikirimi foto kopian kuitansi itu,” ujarnya.

IRA GUSLINA