AP/Lynne Sladky
Topik
Bumerang Badai di September
TEMPO.CO, Jakarta - Serpihan bangunan yang berserakan akibat badai Katia tidak tampak lagi di sejumlah wilayah pesisir Inggris. Badai yang terjadi 12 September 2011 ini memang tidak membuat kerusakan parah. Namun, tetap saja menimbulkan pertanyaan. Maklum, 15 tahun terakhir ini belum pernah ada badai sekuat Katia melanda Inggris.
Katia mengikuti lintasan yang sama dengan badai lainnya. Terbentuk di perairan Atlantik yang hangat di lepas pantai barat Afrika. Badai yang terbentuk di pusaran air menuju Karibia dan Amerika Serikat di mana mereka kembali lagi ke laut.
Sejumlah kecil badai, termasuk Katia, seperti bumerang sepanjang perjalanan kembali melintasi Atlantik. Memang biasanya akan melemah pada satu titik. Badai yang melintasi Atlantik tidak memiliki pola yang sama. "Lingkungan atmosfernya terjebak di dalam suatu kunci," ujar juru bicara National Hurricane Center, Dennis Feltgen.
Badai yang terbentuk itu terjebak dan bergerak cepat mengikuti angin barat. Jadi katanya, mereka terbang lagi.
Menurut Feltgen, Katia telah beralih dari siklon tropis menjadi badai ekstratropical, salah satu badai yang bergerak dan bergeser dari sumber energi.
Berdasarkan data sejak tahun 1851 sampai 2010, hanya 10 badai ekstratropical dimana ujung ekor siklon tropis ini sepanjang 322 kilometer dari Irlandia. Hal ini ditunjukkan oleh badai Debbie yang melanda Kepulauan Inggris pada tahun 1961.
Terakhir kali Inggris dilanda badai yang kuat pada Oktober 1996, saat topan Lili melintasi Atlantik. Dengan kecepatan angin hingga 90 mph (145 kph), badai itu menewaskan 5 warga Inggris dan menyebabkan kerugian $ 250 juta.
Lalu, ekor badai menghantam Inggris dan Irlandia pada 2009, 3 kali di tahun 2006, 2 kali pada tahun 2000 dan sekali masing-masing pada tahun 1996 dan 1998. Kantor Meteorologi Inggris menyebut Katia yang berkategori 4 dapat mirip badai Lili.
Katia memang badai besar kedua di musim topan Atlantik 2011. Badai lainnya adalah Adrian, Irene, yang menerjang New York dan pantai timur Amerika Serikat bulan lalu. Di Samudra Pasifik ada badai Talas yang melanda Jepang dan Asia Timur.
Kajian terbaru yang dilakukan ilmuwan University of Miami tidak menemukan kaitan antara El Nino dengan badai yang besar. Mereka menemukan bahwa siklon tropis yang terbentuk selama satu tahun El Niño menghasilkan kurva badai yang tidak berbahaya dan menjauh dari daratan.
Peneliti Universitas Miami itu juga menemukan "hubungan yang menarik" antara lintasan badai dan variabilitas iklim. Mereka mempelajari data trek badai di Samudra Atlantik yang dikumpulkan mulai tahun 1950 dan 2010.
Mereka membuat klasifikasi lintasan badai dalam 3 kategori: bergerak lurus, melengkung kembali ke darat atau melengkung kembali ke laut. Ternyata, badai yang berkembang lebih jauh ke wilayah selatan atau ke barat Atlantik cenderung menjadi badai yang bergerak lurus yang akhirnya mempengaruhi pantai Amerika Serikat dan Karibia barat.
Namun, badai yang terbentuk lebih ke utara atau timur memiliki kesempatan lebih besar untuk melengkung ke utara. Hal ini mengancam pesisir timur Amerika atau melengkung ke laut terbuka.
Studi ini juga menemukan bahwa El Nino terkait dengan frekuensi badai yang secara keseluruhan lebih sedikit. El Nino merupakan fenomena kolam air hangat di Samudera Pasifik bagian timur.
Musim badai 2009 ternyata yang paling aktif dalam 12 tahun terakhir. Ini terlihat dari kurangnya aktivitas El Nino. Pada tahun itu ada 9 badai tropis, 3 badai topan, dan 2 badai utama. Musim badai di Atlantik rata-rata menghasilkan 11 badai yang memiliki nama, enam badai dan dua badai besar. Dari data badai tahun 2009, badai tropis Claudette sempat melanda daratan Amerika Serikat.
"Dalam musim khas El Nino, kami temukan data bahwa badai memiliki probabilitas lebih tinggi untuk melengkung kembali ke laut dan tidak mengancam daratan di sepanjang pantai timur," kata Angela Colbert, salah satu peneliti Universitas Miami. Hal ini terjadi karena perubahan dalam sirkulasi yang melintasi Atlantik.
Menurut Colbert, data-data ini penting untuk melakukan peramalan cuaca. Termasuk juga, ujarnya, perusahaan asuransi yang menggunakannya untuk menentukan harga penawaran setiap musim dan tahunan.
Bagaimana dengan La Nina? Ini merupakan fenomena iklim ketika permukaan air di khatulistiwa Samudra Pasifik lebih dingin dari suhu normal. Tahun lalu adalah tahun aktif di cekungan Atlantik karena terjadi La Nina moderat yang menghasilkan 19 badai bernama, 12 topan dan badai besar kategori 5. Namun, tidak ada badai besar yang melanda daratan Amerika Serikat.
Tahun 2011 musim badai di Atlantik berada dalam puncaknya. La Nina diperkirakan muncul kembali setelah tidak terjadi selama musim panas. Hingga November, banyak negara di pesisir utara Atlantik dan Pasifik berjaga-jaga menghadapi ancaman badai berikutnya.
UWD | OurAmazingPlanet | LIVESCIENCE





