ANTARA/Feri Purnama
Topik
Diky Chandra: Jangan Sampai Saya Hilang Rasa
TEMPO.CO, Keputusan Raden Diky Chandra untuk mundur dari jabatannya sebagai Wakil Bupati Garut bisa jadi yang pertama dilakukan oleh birokrat Tanah Air masa kini, sejak mundurnya salah satu proklamator Indonesia, Muhammad Hatta, sebagai wakil presiden. Dengan jelas, bekas artis yang kini bersiap kembali ke profesi lamanya itu mengaku keputusan mundur itu lantaran ia merasa tak mampu bersinergi dengan pasangannya, Bupati Garut Aceng H.M. Fikri.
Menurut ayah empat anak ini, sejak pencalonan dirinya dan Aceng sebagai pasangan calon independen dalam pemilihan kepala daerah dua tahun lalu, ia sudah merasa tak cocok. Ia sudah menyerah. Tapi ibunya meyakinkan dia bahwa Aceng akan kembali. “Akhirnya, saya jalankan sampai bertahun-tahun. Anggaplah saya istri, harus mengalah,” katanya. Apalagi jika ia mundur saat pencalonan sudah dideklarasikan, ”Saya harus bayar Rp 20 miliar, kalau tidak salah.”
Diky juga menepis tudingan Bupati Aceng, yang pada pertengahan Januari lalu bergabung dengan Partai Golkar, bahwa ia mundur lantaran tak mampu bersinergi dengan para pejabat Musyawarah Pimpinan Daerah lainnya, seperti Komandan Kodim, Kepala Kejaksaan Negeri, dan Kepala Kepolisian Resor Garut. “Pak Dandim dengan saya sama-sama warga kehormatan kampung adat Dukuh. Dengan Pak Kapolres pun saya masih sama-sama hobi off-road,” katanya kepada Istiqomatul Hayati, Sigit Zulmunir, dan juru foto Yosep Arkian dari Tempo pada Kamis malam lalu di kediamannya di Garut.
Di tengah wawancara yang berakhir menjelang tengah malam itu, Komandan Kodim 0611 Garut Letkol Arm. Edy Yusnandar mendatangi kediamannya. Diky dan Edy terlihat akrab dan bercanda sambil makan malam bersama. “Begini kok kami dibilang tidak sinkron,” kata Diky yang tampak bersahaja dengan t-shirt putih, jaket, dan pantalon longgar.
Kapan tepatnya Anda terpikir mundur?
Saya enggak mau memperkeruh suasana, (niat) memundurkan diri ini sudah lama. Saya malu ngomong-nya. Sebenarnya, dari waktu pilkada (pemilihan kepala daerah), saya sudah menyerah. Cuma kan harus bayar Rp 20 miliar (jika membatalkan pencalonan), kalau tidak salah.
Jika di awal saja sudah merasa menyerah, kenapa dilanjutkan?
Prinsipnya, saya ini bukan orang yang pintar karena (pendidikan) saya cuma sampai SMA. Saya ini pengidola Bapak Bupati Aceng H.M. Fikri. Beliau itu cerdas, pintar, dari sisi agama luar biasa. Dari sisi visi yang pernah dia ceritakan, saya kagumlah. Cuma, belakangan saya memandang Pak Bupati terlalu sibuk. Pak Bupati kelihatan overload dengan permasalahan. Justru ibu saya menenangkan bahwa Kang Aceng akan kembali. Karena Kang Aceng itu orangnya baik, dia sulit memilah mana teman yang menguntungkan dan mana yang mencari keuntungan. Akhirnya, saya jalankan sampai bertahun-tahun. Anggaplah saya istri, harus mengalah. Sekuat tenaga saya pertahankan. Makanya saya cerewet (mengingatkan Bupati). Pada akhirnya ini mengganggu konsentrasi beliau.
Bagaimana Bupati merespons kecerewetan Anda itu?
Sebetulnya tidak ada kewajiban Bupati harus mendengarkan, tidak ada di dalam undang-undang. (Tapi) tugas wakil Bupati memberikan masukan dan saran, itu ada. Sebetulnya saya santai, sih. Tapi kan saya sayang sama Garut, saya sayang sama mahkotanya: Pak Bupati.
Kenapa Anda tidak bertahan sampai selesai?
Sebetulnya, kalau saya mau santai, diam saja, biarin saja, yang tanggung jawab kan Bupati. Wakil bupati enak, tunggu saja, yes man saja. Cuma, itu bukan saya, karena saya juga punya jiwa, punya keinginan untuk membangun. Ingin mencoba mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah akan akal yang diberikan, akan harapan untuk perbaikan, untuk memberi masukan.
Apalagi karena Anda dipilih langsung oleh rakyat dalam satu paket, ya?
Kami berangkat dari kesederhanaan. Kemenangan kami itu dirayakan dengan ramai. Aduh malu, pakai acara mancing rame-rame di Situ Bagendit. Kemenangan itu baru kemenangan yang patut kita syukuri dengan cara sewajarnya. Karena itu baru titik awal perjuangan. Perjuangan sebenarnya, ya, mengemban amanah sampai 2014. Kalau pilkada mah bukan juara-juaraan, itu soal amanah. Persepsi ini saja sudah berbeda. Tetapi oke, untuk tanggung jawab, saya jalankan. Sebetulnya spirit saya untuk meneruskan ini besar. Cuma bahayanya, kalau saya teruskan dengan kondisi seperti sekarang, sangat berat.
Jadi, memang ada perbedaan cara antara Anda dan Bupati?
Di masalah aturan mainnya. Begini analoginya, tujuan saya dan Pak Bupati sama, cuma jalannya berbeda. Kalau konsep ini terus dipertahankan, susah karena yang akan menggerakkan itu semua adalah Sekretaris Daerah. Enggak mungkin kalau sopir berduaan.
Waktu melakukan ijab kabul pencalonan, ada kontrak politik tertulis?
Enggak ada. Saya memang begitu. Saya kan (menangani) manajemen artis, seperti Sule, Oni, dan artis lainnya, tanya pada mereka ada kontraknya enggak. Gaya saya manajemen qolbu. Kita percayalah, walaupun saya ditegur Mas Helmy Yahya, “Lu enggak bakalan kaya-kaya kalau begitu.” Biarlah, tapi saya berbicara hati. Insya Allah, kalau hari ini tidak bisa dipetik, besok lusa akan ada sesuatu yang akan kita petik.
Apa yang membuat Anda tertarik menjadi Wakil Bupati Garut?
Saya tidak berangkat karena ingin menjadi seorang pejabat. Saya menolak Bogor, saya menolak Ciamis, Garut pun saya tiga kali tolak via telepon. Saya tanya konsepnya, tapi jangan yang berat-berat, saya tidak paham soal politik, pemerintahan. Diceritakanlah bahwa Pak Bupati mantan ketua salah satu partai politik di Garut sehingga paham politik dan pemerintahan. “Kang Diky, kalau nanti jadi, cukup diam saja mempelajari beberapa hal, nanti biar saya.” Kedua, Pak Bupati juga seorang LSM yang peduli, kalau enggak salah dia keras memperjuangkan limbah di daerah Copong. Wah, ini pemimpin punya keberanian. Ketiga, Kang Aceng ini bukan orang kaya raya, memang sederhana dan santun. Agamanya kuat karena memang seorang ajeungan (ustad) sehingga saya pikir kasih sayang kepada rakyat akan jauh lebih baik. Itu pandangan saya. Keempat, Kang Aceng pernah cerita bahwa kami ingin memberikan pembelajaran politik karena politik sering dijadikan sarana untuk memperkaya diri. Kelima, kami menggunakan kereta independen. Karena pandangan itu, saya tertarik.
Apa yang menjadi syarat Anda bisa menerima lamaran itu?
“Satu hal yang saya tidak mau: Kang (Aceng), kita jangan pernah membusukkan seseorang atau kelompok, lembaga, ataupun yang lainnya. Kita fight, fight, beribadah, begitu selamanya”. Oke, jam 12 teng, bismillah kami jalan.
Ketegangan muncul karena perbedaan gaya kepemimpinan atau karena masuknya Bupati ke Golkar?
Enggak kok, jauh sebelum Bupati masuk ke partai, sudah terjadi. Walaupun tidak bisa dimungkiri, wajarlah saya manusia merasa kecewa karena tidak diberi tahu sebelumnya.
Anda merasa dikhianati?
Ya, saya ceritakan (kepada para pendukung) bahwa saya kecewa. Tapi apakah dengan kekecewaan itu maka kita harus berpikir untuk mendemo Bupati atau segala macam. Lebih baik tidak.
Apakah masyarakat juga merasa dikhianati?
Waktu itu mereka merasa dikhianati. Makanya saya coba datang dengan Bupati menenangkan.
Kata Bupati, Anda mundur bukan karena ada persoalan dengannya, tapi karena Anda tak mampu bersinergi dengan jajaran Muspida lain?
Saya sangat kecewa mendengar itu. Karena tanggal 5 (September) saya memberikan itu (surat pengunduran diri) ke Pak Bupati. Saya mengabarkan ke Pak Bupati sebelum upacara di ruangan. Saya berikan melalui sekpri (sekretaris pribadi) saya ke sekpri Pak Bupati dan ajudan dewan. Setelah itu, Pak Bupati datang ke sini (rumah dinas), katanya diminta Pak Sekda. Saya bilang, "Akang banyak benernya, saya ada benernya sedikit. Akang ada salahnya, saya banyak. Sebetulnya cocok, sejalan tapi tidak jodoh. Kita sudah melalui proses berapa kali. Sekarang begini, saya akan konsisten membantu Akang dan Garut walaupun di luar kekuasaan." "Ah," kata Bupati. "Enggak mau, pokoknya kita mulai lagi dari nol. Saya bilang, "Akang ngomong berapa kali kaya begini. Sudahlah ikhlaskan, saya tidak punya niat buruk ataupun politis. Secara citra saya jelek, secara politik saya habis, apa sih yang bisa saya dapatkan. Secara finansial pun saya punya apa?"
Setelah itu?
Saya diminta menjelaskan di DPRD. Ada pertanyaan dari Ketua DPRD Bapak Badjuri, “Ini berarti tidak cocok dengan pimpinan Muspida yang lainnya?” Ya, tapi konteksnya saya tidak sanggup mengimbangi pola kepemimpinan yang ada. Jadi, itu bahasa halus. Kalau dijabarkan: Saya tidak sanggup bersinergi dengan Ketua DPRD, dengan Muspida, dengan wartawan, dengan masyarakat. Contohnya, tiba-tiba bikin lapangan terbang, tiba-tiba bikin apa yang tidak dikoordinasikan dengan saya. Nah, ketika DPRD menanyakan, saya bingung. Jadi, saya takut ketemu orang tuh karena ada beberapa kebijakan yang saya tidak tahu. Akhirnya, kalau saya ngomong salah, kalau tidak ngomong aduh gimana. Kalau saya dibilang tidak bersinergi, bohong sekali. Ketua Dewan duduk bareng dengan saya, Pak Dandim dengan saya sama-sama warga kehormatan kampung adat Dukuh. Dengan Pak Kapolres pun saya masih sama-sama hobi off-road. Terus kita juga sama-sama pencinta domba. Istri kami pun tergabung dalam penggiat sosial. Bahkan mereka nyanyi bareng.
Terpikirkah bahwa mundurnya Anda ini bisa menjadi preseden buruk bagi para calon kepala daerah dari jalur independen lain?
Percaya, selama Allah itu ada, selama itu niatnya baik, segala sesuatu tidak ada yang tidak mungkin. Jangan sampai karena ada hal-hal tertentu, kita mengklaim. Enggak bisa jadi patokan. Sebetulnya pembelajaran politik independen yang paling bagus itu di Garut. Yang membuat saya mundur itu karena ada efek buruk. Efek buruk yang sudah terjadi bukan terprediksi. Kebimbangan di bawah, malu kalau saya harus didamaikan oleh LSM sampai di muka umum.
Berapa lama efek buruk itu terjadi?
Cukup lama. Bayangkan, yang bikin saya takut itu masyarakat di sekeliling saya tuh jadi rusak. Datang ke saya jelekin Bupati, datang ke Bupati jelekin saya. Kalau ini bertahan terus, saya takut memberikan ruang orang semakin banyak dosanya dengan mengadu domba.
Sebelum memutuskan mundur, Anda berkonsultasi kepada siapa?
Enggak ada. Waktu saya ke Kementerian, saya naik taksi sendiri. Saya ingin membuktikan bahwa tidak ada aktor intelektual di belakang saya. Ini keinginan sendiri, kesadaran sendiri, bukan karena ada pakar hukum atau yang lainnya.
Butuh berapa lama Anda bertahajud memutuskan mundur?
Ya, selama puasa kemarin, saya salat tahajud terus.
Menyesalkah Anda ketika meninggalkan dunia artis dan sekarang akan kembali menjadi artis?
Sebenarnya, saya sudah lama meninggalkan dunia artis. Saya sudah malas.
Masih suka makan di pinggir jalan sehingga merepotkan protokoler?
Iya, awalnya ajudan-ajudan itu kaku. Cuma, insya Allah niat saya bukan melawan aturan, tapi kalau saya salah, ya, mohon maaf. Kadang-kadang saya enggak pakai ajudan, enggak pakai sopir. Saya naik delman sendiri, naik angkot sendiri. Cukur rambut di depan RSUD sendiri. Tukang cukurnya bilang, “Kayaknya kenal, nih.” Saya jawab, “Enggak, kali.” Sebenarnya saya cuma ingin agar jangan saya sampai hilang rasa. Akan lebih indah kalau kita jadi orang yang pintar merasa. Bukan kebalik, merasa pintar.





