Sejumlah personil Brimob Polda Sulselbar bersiap untuk diberangkatkan ke Ambon di Asrama Brimob Aluddin Makassar, Sulawesi Selatan, (11/9). ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang
Topik
Infografis
Komnas Perempuan Minta Cegah Eksploitasi Seksual di Ambon
TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Nasional untuk Perempuan meminta aparat menjamin tim mereka yang ditugaskan menjaga keamanan di Ambon saat ini tidak melakukan kekerasan, termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan. “Harus ada jaminan, akses aparat terhadap kekerasan pada perempuan ditutup,” kata Komisioner Komnas Perempuan Arimbi Heroepoetri di Jakarta, Minggu, 18 September 2011.
Hasil pemantauan Komnas Perempuan selama ini di daerah konflik kerap menyimpan cerita kekerasan seksual terhadap perempuan. Arimbi mencontohkan, setelah tahun 1998, di sejumlah daerah rawan konflik seperti Aceh, Papua, Poso, dan Ambon, eksploitasi seksual terhadap perempuan kerap terjadi.
Eksploitasi yang dimaksud Komnas ini merujuk pada situasi di mana oknum aparat yang sedang bertugas, menjalin hubungan dengan perempuan warga setempat. “Aparat itu biasanya menggunakan posisinya sebagai simbol keamanan dan menjanjikan perkawinan agar mendapat pelayanan seksual,” ujar Arimbi.
Yang terjadi selama ini, para perempuan tersebut pada akhirnya ditelantarkan setelah masa tugas oknum aparat tersebut usai. Eksesnya, perempuan korban itu mau tak mau harus menanggung stigma negatif di masyarakat dan memikul beban sebagai orang tua tunggal jika mereka melahirkan anak dari hubungannya dengan oknum aparat tersebut.
Salah satu wujud ekses negatif adalah munculnya istilah yang merendahkan perempuan korban eksploitasi seksual. “Setelah ada kerusuhan di Maluku 1999 lalu, sampai ada istilah ‘koramil’, yakni korban rayuan militer. Itu refleksi nyata persoalan ini,” kata Arimbi.
Arimbi berharap demi mencegah hal yang sama terus berulang, kali ini institusi yang menaungi aparat keamanan harus memberi perhatian serius terhadap upaya pencegahan kekerasan seksual terhadap perempuan. “Selain menghapus kekerasan terhadap perempuan, pencegahan juga bisa merawat kredibilitas institusi keamanan,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kota Ambon, Maluku, kembali dilanda kerusuhan pada 11 September 2011 lalu. Terjadi bentrokan antar dua kelompok warga di kota tersebut. Bentrok dipicu kematian seorang tukang ojek, Darfin Saimen, sehari sebelumnya. Darfin disebut-sebut tewas di kawasan Gunung Nona, Kudamati, Ambon. Seusai pemakaman Darfin, emosi massa meletup dan ditindaklanjuti bentrok dengan kelompok lain.
ISMA SAVITRI





