Setelah Kerusuhan Berdarah, Polisi Buru Enam Tahanan

TEMPO.CO, Palembang - Aparat Kepolisian Daerah Sumatera Selatan hingga Senin, 19 September 2011, masih terus memburu enam penghuni Rumah Tahanan Negara (Rutan) Muara, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. “Salah seorang di antaranya membawa lari senjata api jenis FN milik sipir,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Selatan Komisaris Besar Polisi Sabarudin Ginting, Senin, 19 September 2011.

Enam orang tahanan tersebut berhasil melarikan diri setelah terjadi kerusuhan di Rutan Muara, Minggu pagi kemarin, 18 September 2011. Dalam kerusuhan tersebut, seorang sipir, Arfan, 44 tahun, dan seorang tahanan, Agus, tewas.

Arfan tewas ditembak seorang tahanan bernama Hendro. Pistol FN yang merenggut nyawa Arfan adalah senjata yang biasa digunakan Arfan saat menjalankan tugas. Adapun Agus tewas dikeroyok massa yang menangkapnya di sekitar pasar lama Ogan Komering Ulu Selatan beberapa saat setelah meloloskan diri dari sel tahanannya.

Sementara itu kondisi Rutan Muara sudah mulai kondusif setelah dikerahkan aparat Kepolisian Resor Ogan Komering Ulu Selatan untuk melakukan pengamanan.

Kerusuhan di Rutan Muara terjadi hanya berselang dua pekan setelah kejadian serupa di Rutan Pakjo, Palembang.

Kepala Humas Kantor Wilayah Hukum dan HAM Sumatera Selatan Zakaria menjelaskan kerusuhan berawal saat para penghuni rutan akan mengambil air dari bak penampungan. Sejak musim kemarau, air dari bak penampungan digunakan untuk keperluan para tahanan.

Saat itu rutan yang berpenghuni 138 tahanan hanya dijaga dua orang sipir, yakni Arfan dan Riswan, 52 tahun. “Seorang sipir lainnya sedang izin keluar kantor,” ujar Zakaria.

Sekitar pukul 08.00 pagi, Arfan membuka pintu kamar 18 dan 19 di Blok B dengan maksud meminta penghuni segera mengisi bak penampungan air di sel mereka.

Tiba-tiba tanpa sebab yang jelas Hendro terlibat adu mulut dengan Arfan yang dilanjutkan pergulatan di antara keduanya. Dalam pergulatan yang tak seimbang itu Hendro berhasil mengambil pistol yang terselip di pinggang Arfan.

Dengan gerak cepat Hendro yang merupakan pecatan dari kesatuan TNI yang terlibat kasus perampokan langsung menembakkan sebutir peluru ke dada kiri Arfan. “Berdasarkan pengakuan saksi, Arfan ditembak Hendro dari jarak dekat,” ujar Zakaria.

Pada saat kerusuhan terjadi, 12 tahanan meloloskan diri keluar dari rutan. Namun enam orang di antaranya bisa dibekuk warga. Bahkan seorang di antaranya tewas dikeroyok. Sedangkan enam lainnya terus melarikan diri dan membawa serta pistol yang menewaskan Arfan.

PARLIZA HENDRAWAN