Relawan di lokasi gempa di desa Onna, Italia, Senin (6/4). Gempa tersebut menewaskan setidaknya 92 orang. AP Photo/Sandro Perozzi
Topik
Lalai, Ilmuwan Italia Diadili
TEMPO.CO, Roma - Sekelompok ilmuwan Italia disidang di Pengadilan Kota L''Aquila di wilayah pegunungan Abruzzo, Rabu, 21 September 2011. Mereka dituduh lalai memberikan peringatan saat gempa mengguncang wilayah itu pada 2009. Gempa itu menewaskan lebih dari 300 jiwa. "Sederhana saja, kami menginginkan keadilan," kata jaksa penuntut Alfredo Rossini.
Ketujuh terdakwa, termasuk ilmuwan dan pejabat pemerintah itu, dianggap tak memberi informasi lengkap. Bukan hanya itu, mereka juga dituduh melakukan pembunuhan massal. Sebab, kata Rossini, penduduk di kawasan telah melaporkan adanya guncangan-guncangan kecil yang dirasakan sebelum gempa pada April 2009 tersebut.
"Semestinya warga diperingatkan untuk meninggalkan rumah," ujar jaksa Rossini. Walhasil, gempa yang meluluhlantakkan sebagian besar wilayah kota itu memakan banyak korban jiwa. "Kami menuntut ganti rugi 50 juta euro (sekitar Rp 612 miliar) atas kelalaian ini."
Namun, tuduhan dan tuntutan ini ditolak para tertuduh.
"Anda tak bisa menempatkan ilmu pengetahuan ke pengadilan," kata pengacara Alfredo Biondi, kuasa hukum Profesor Claudio Eva, guru besar fisika di Universitas Genoa. Eva merupakan ilmuwan top Italia yang duduk di kursi pesakitan bersama Enzo Boschi, mantan Direktur Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi Italia yang prestisius itu.
Para terdakwa juga mendapat dukungan dari ahli gempa di seluruh dunia yang mengatakan mustahil untuk meramalkan gempa. Tahun lalu, lebih dari 5.000 peneliti internasional menandatangani petisi yang mendukung ilmuwan Italia itu. Mereka memperingatkan risiko tuntutan hukum bisa mematahkan semangat ilmuwan dan pejabat mengeluarkan pendapat.
Surat terbuka itu dikirim ke Presiden Italia Giorgio Napolitano. Namun, Dokter Vincenzo Vittorini, yang mendirikan lembaga untuk para korban gempa, "Martir 309" dan kehilangan istri serta putrinya, mengatakan, "Kami tak perlu tahu kapan persisnya gempa, kami cuma minta diperingatkan." Sidang berikutnya dijadwalkan tanggal 1 Oktober 2011.
| ANN | EURONEWS | ANDREE PRIYANTO





