Foto: skyscrapercity.com
IATA: Infrastuktur Penerbangan Indonesia Masih Parah
TEMPO.CO, Jakarta - Kondisi infrastruktur penerbangan di Indonesia masih buruk, khususnya bandara yang sudah melebihi kapasitas. "Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, mengecewakan," kata CEO International Air Transport Association (IATA), Tony Tyler saat ditemui TEMPO, Kamis, 22 September 2011.
Pengembangan kapasitas bandara, menurut Tony, merupakan kebutuhan yang penting dan mendesak. "Pengembangan harus sama dengan perkembangan industri penerbangan," katanya. Ia memaparkan, Terminal 3 yang saat ini sedang dibangun akan memiliki kapasitas 38 juta penumpang pertahun, namun di tahun 2010 volume penumpang di Bandara Soekarno Hatta sudah mencapai 43 juta penumpang per tahun.
Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Herry Bhakti menyatakan, Kementerian Perhubungan sedang membangun terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. "Kapasitas akan meningkat hingga 60 juta penumpang per tahun," katanya.
Pengembangan infrastruktur bandara Soekarno Hatta, menurutnya, secara keseluruhan akan selesai pada tahun 2017. "Khusus terminal 3 diharapkan sudah bisa dipakai tahun 2015," katanya.
Ia juga menyatakan, alternatif lain yang sedang dipikirkan Kementrian Perhubungan menciptakan alternatif ke bandara baru. "Sedangkan ada studi multi airport terkait dengan metropolitan priority area, saat ini Karawang dinilai daerah yang paling ideal," kata Herry. Bandara ini nantinya juga menjadi bandara internasional yang perhitunganya dari JICA (Japan International Cooperation Agency).
Menurut Tony, Indonesia akan beresiko kehilangan manfaat ekonomi dari pertumbuhan pesat sebagai dampak liberasi penerbnagan asean bila tidak mampu menyeimbangkan pengembangan Infrastruktur. Hal serupa juga disampaikan INACA yang menilai infrastruktur di Indonesia masih lemah. "Maskapai dan jumlah penumpang terus meningkat, tapi infrastruktur lebih lambat," kata Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Tengku Burhanudin.
FRANSISCO ROSARIANS





