foto

Pekerja menyortir kelapa sawit yang akan dikirim ke pabrik CPO di kawasan PTPN VIII di Cigudeg, Bogor. Tempo/ Arie Basuki

Harga CPO Tahun Depan Tetap Menarik

 



 



TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah kalangan memperkirakan harga rata-rata minyak kelapa sawit (CPO) mencapai US$ 1.050 per ton tahun depan. Angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan perhitungan rata-rata harga CPO per Agustus 2011, yang sebesar US$ 1.170 per ton.

Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia, Derom Bangun, menilai perubahan harga tidak terlalu besar tahun depan karena masih ketatnya permintaan dan pasokan komoditas tersebut. Salah satu indikatornya adalah kenaikan produksi minyak nabati yang hanya 4 persen dinilai belum cukup memenuhi permintaan global.

Suplai yang ketat, menurut dia, sebenarnya bisa membuat harga cenderung naik. "Tapi tekanan ekonomi global membuat permintaan menyusut sehingga kenaikan harga terbatas," kata Derom, Kamis, 22 September 2011.

Direktur Eksekutif ISTA Mielke GmBH (Oil World), Thomas Mielke, memprediksi harga CPO di bursa Rotterdam tahun depan minimal sekitar US$ 1.000 per ton. Masih tingginya harga dinilai karena minyak sayur tidak terlalu terpengaruh oleh krisis ekonomi. “Saya tidak pesimistis pada kegiatan perdagangan minyak sawit. Kalaupun turun, tidak terlalu signifikan.”

Dengan lebih tingginya permintaan minyak sawit hingga tahun depan ketimbang pasokannya, harga komoditas tersebut masih akan sangat menarik. Produksi minyak sawit dunia kini mencapai 47 juta ton. Indonesia dan Malaysia tahun ini diperkirakan hanya memproduksi CPO masing-masing 1,8 juta ton dan 1,6 juta ton.

Sedangkan tahun depan produksi CPO Indonesia diprediksi naik tipis menjadi 1,7 juta ton dan produksi Malaysia turun. Adapun kebutuhan meningkat sebanyak 3,1 juta ton per tahun.

Selain dipengaruhi oleh faktor permintaan dan pasokan, pergerakan harga sejumlah komoditas juga mengekor fluktuasi harga minyak mentah. Pengamat perminyakan dari Center for Petroleum & Energy Economic Studies Jakarta, Kurtubi memprediksi harga minyak Indonesia tahun depan naik menjadi US$ 120 per barel dari posisi tahun ini, US$ 110 per barel.

Kenaikan harga minyak tahun depan itu diperkirakan bukan karena terpengaruh terhadap pelemahan ekonomi Amerika dan Eropa, melainkan tingkat pendapatan di negara berkembang. Dengan masih tingginya pertumbuhan ekonomi Cina dan India yang merupakan konsumen minyak terbesar di dunia ini, harga minyak mentah masih akan tinggi.

EKA UTAMI APRILIA