Upper Atmosphere Research Satellite. Foto: telegraph.co.uk
Topik
Bangkai Satelit Jatuh di Indonesia, NASA Bisa Dimintai Ganti Rugi
TEMPO.CO, Jakarta - Benda jatuh antariksa menjadi masalah pelik dalam sejarah penjelajahan antariksa yang dilakukan manusia sejak 1957. Negara yang tertimpa rongsokan benda antariksa bisa meminta ganti rugi kepada negara pemilik satelit.
Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan selama ini belum pernah terjadi korban manusia akibat benda jatuh angkasa. Permukiman manusia yang relatif lebih kecil dibandingkan luasan lahan kosong dan samudera membuat benda berbahaya dari langit ini lebih sering jatuh di wilayah tak berpenghuni.
"Namun selalu ada potensi jatuh ke wilayah berpenduduk," ujar Djamaluddin kepada Tempo di Gedung BPPT Jakarta, Kamis, 22 September 2011.
Jika rongsokan jatuh ke Bumi dan merugikan manusia, penduduk berhak menuntut ganti rugi kepada negara pemilik satelit. Ia menyebutkan ada hukum internasional khusus yang mengatur mekanisme klaim ganti rugi ini.
Dalam hukum itu disebutkan negara pemilik satelit dan negara korban harus menunjuk negara ketiga sebagai analis independen untuk menentukan tingkat kerugian. Negara ketiga ini kemudian memberikan rekomendasi kepada kedua negara mengenai besaran klaim ganti rugi yang harus diberikan.
Lebih jauh, benda jatuh antariksa yang jatuh ke Bumi bisa menjadi milik negara lokasi jatuhnya satelit. Negara pemilik satelit jarang meminta rongsokan satelit tersebut dikembalikan ke negara asal.
"Tidak ada gunanya meminta rongsokan," ujar dia.
Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) berbobot 6,5 ton seukuran bus akan jatuh ke Bumi, mengancam penduduk yang tinggal di antara 57 lintang utara dan 57 lintang selatan, termasuk Indonesia. Diluncurkan oleh lembaga penerbangan dan antariksa Amerika Serikat (NASA) pada September 1991, satelit ini bertugas mempelajari lapisan ozon di lapisan teratas atmosfer Bumi. Pada 15 Desember, UARS resmi dipensiunkan oleh NASA pada ketinggian 575 dan inklinasi 57 derajat.
Sebagian besar satelit akan terbakar di atmosfer, menyisakan 532 kilogram mesin yang sampai di Bumi. Dari jumlah ini pecahan paling berbahaya adalah sebuah kotak seberat 158 kilogram dengan kecepatan 44 meter per detik yang akan menghantam daerah seluas 2 meter persegi. Selain itu juga terdapat beberapa rangka titanium seberat 25-60 kilogram yang ikut terjatuh pada kecepatan tinggi.
LAPAN memperkirakan satelit ini akan jatuh pada hari Sabtu, 22 September 2011, pukul 09.00 WIB atau Jumat malam waktu Amerika Serikat. LAPAN juga memastikan belum ada institusi antariksa yang bisa memastikan lokasi jatuhnya satelit ini, termasuk NASA.
ANTON WILLIAM





