Topik
"Bus Ngangkang" Ditawarkan Pengganti Monorel
TEMPO.CO, Jakarta - Konsorsium Infiniti Wahana bekerja sama dengan PT Zebra Nusantara Tbk dan Shenzen Hashi Future Parking Equipment Co dari Cina menawarkan konsep straddling bus (Bus Ngangkang) ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Konsorsium ini beberapa hari lalu mempresentasikan konsep bus ke Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Administrasi Hasan Basri Saleh, Dinas Perhubungan, dan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta. Tidak hanya ke DKI Jakarta, konsep serupa juga akan ditawarkan ke Surabaya dan Bandung.
"Teknologi ini solusi masa depan mengatasi kemacetan kota, bahkan masuk dalam "50 Best Inventions 2010" versi majalah Times," kata Luli Widharmadi, CEO PT Zebra Nusantara Tbk, Jumat, 23 September 2011.
Menurut Luli, tidak perlu ada pembangunan ruas jalan karena bus menggunakan rel yang membentuk sebuah terowongan setinggi dua meter. Di bawah terowongan tersebut, kendaraan berukuran kecil dan sedang bisa melintas. Bahkan terdapat sensor pengaman berupa Ultra Sound Detect System, Internal Indicator System, Running Lights, dan Warning Lights, untuk menjaga jarak aman antara kendaraan dan bus. "Dibanding dengan subway dan monorel, investasi dan operasionalnya lebih rendah," klaim Luli.
Moda bus ini sendiri sudah disepakati dilaksanakan di sejumlah negara, seperti Cina, Brasil, Amerika Serikat, Inggris, Italia, Spanyol, Malaysia, dan Jerman. Namun bus yang jika sudah disepakati juga diusulkan bernama bus layang ini berbeda dengan konsep bus layang yang dipikirkan Pemprov DKI yang memanfaatkan tiang monorel. Bentuk bus ini mirip kereta dengan empat gerbong. Bentuknya juga mirip bus tingkat, tetapi lebih besar dan lebar karena mobil-mobil lain bisa melaju di bawah bus layang
Bus Ngangkang ini berukuran panjang 10 meter dan lebar 6,45 meter, terdapat empat gerbong besar yang masing-masing setara dengan kapasitas pengangkutan 10 bus Kopaja. Artinya, jika sudah beroperasi, satu bus bisa mengangkut sekitar 1.200 penumpang. Bus ini menggunakan tenaga listrik tenaga surya yang akan di-recharge di masing-masing terminalnya.
Jika sudah dioperasionalkan, bus ini akan menarik tarif Rp 5.000 per penumpang. "Setara dengan tarif Kopaja AC," kata Luli.
Menurut Luli, semua investasi akan ditanggung swasta tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Selama 30 tahun akan menggunakan sistem Built Operation Transfer (BOT). Dan tidak perlu ada subsidi dalam masa operasional.
ARYANI KRISTANTI





