Topik
Panjat SUTET Lagi, Fitri Diancam Penjara
TEMPO.CO, Jakarta - Fitria Qutronada, yang dijuluki spidergirl, anak perempuan yang hobi memanjat menara saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET), diancam masuk penjara. Ancaman itu diberikan setelah Pipit, nama panggilan Fitria, memanjat menara SUTET untuk kesepuluh kalinya, Jumat, 23 September 2011.
"Kalau Pipit panjat menara lagi, nanti Pipit masuk ke penjara itu," kata seorang anggota polisi ke Pipit sambil menunjukkan ruang tahanan di Kepolisian Sektor Tanjung Duren, Jakarta Barat. Melihat ruang berjeruji itu, wajah Pipit berubah pasi. "Tidak mau, Om," jawab Pipit.
Menurut Perwira Unit Reserse dan Kriminal Polsek Tanjung Duren, Inspektur Satu Ali Syamsudin, penunjukan ruang tahanan itu dilakukan untuk memberi terapi kejut ke Pipit. Sebab, polisi serta orang tua Pipit, Sumarni dan Supratno, sudah berkali-kali menasihati dia agar tidak memanjat menara SUTET lagi.
"Meski sudah dinasihati, Pipit kembali memanjat. Semoga dengan terapi kejut itu, dia tidak panjat SUTET lagi," ujar Ali.
Sekitar pukul 11.30 WIB, bocah 10 tahun itu memanjat menara SUTET di Jalan Rawa Kepa Ujung, Tomang, Grogol Petamburan. Ini adalah kali ke-20 Pipit memanjat menara tinggi, mulai dari menara sinyal provider hingga SUTET. Kali ini, Pipit tidak hanya memanjat, dia juga melepas kaus putihnya saat berada di atas menara.
"Bajunya dipakai untuk naik menara. Adem juga di atas kalau enggak pakai baju," kata Pipit ke wartawan di Polsek Tanjung Duren.
Sebelum memanjat menara SUTET Tomang, Pipit sempat meminta sang ibu untuk mengantarkannya ke rumah sang bibi di daerah Jembatan Gantung, Daan Mogot, Jakarta Barat. Namun Sumarni menolak permintaan anaknya. "Saya takut dia (Pipit) memanjat lagi," kata Sumarni.
Kekhawatiran Sumarni menjadi kenyataan. Pipit, yang biasanya dikurung di rumah, ternyata kabur ke Tomang. "Tiba-tiba saya dapat kabar Pipit sudah di atas menara," ujarnya.
Saat kabur dari rumah, Pipit sendiri tidak membawa uang. Dia mengaku jalan kaki dan berlari dari rumahnya di daerah Ciputat, Tangerang Selatan, ke Tomang. "Aku merasa ada teman di dalam tubuh yang ajak panjat menara. Kalau enggak ikutin, rasanya ingin marah, pukul ibu," kata Pipit.
Setelah berada di atas menara, Pipit merasa tenang. Namun dia tidak lekas turun, ia bermain-main dulu di sana. Menurut Pipit, ada sosok hitam besar dengan rambut putih yang mengajaknya main. "Makanya kalau di atas SUTET aku suka nari-nari."
Pipit akan turun dari menara setelah diminta polisi dan warga di sekitar menara SUTET. Dan kali ini, dia baru mau meninggalkan menara dengan bujukan uang Rp 100 ribu dari anggota polisi Polsek Tanjung Duren. Namun setelah Pipit turun, uang tersebut urung diberikan. Sebab, sang ibu tidak mengizinkannya. "Jangan, saya malu," kata Sumarni.
Polisi sendiri hanya bisa kembali menasihati Pipit dan menunjukkan kondisi ruang tahanan dengan harapan dia tidak lagi mengulangi perbuatannya. "Kami tidak bisa perlakukan dia seperti kriminal atau dibawa ke rumah sakit jiwa. Karena dia memang tidak sakit dan masih kecil," kata Ali.
CORNILA DESYANA





