foto

Seorang pialang memegangi keningnya saat memperhatikan pergerakan saham di ruang dealing sebuah bank di Seoul, Korea Selatan (9/8). Indeks saham Korea mengalami penurunan hampir 10% .REUTERS/Truth Leem

Tak Usah Panik, Suspensi Bursa Belum Perlu  

TEMPO.CO, Jakarta - Meski Indeks Harga Saham Gabungan terpuruk lebih dari 10 persen, kalangan pelaku pasar modal meminta Bursa Efek Indonesia dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan untuk tidak melakukan penghentian perdagangan sementara (suspensi).

Perdagangan harus terus berlanjut sehingga tidak menunjukkan kepanikan di pasar. "Asing akan berpikir untuk melepas portofolio. Itu yang dikhawatirkan," ujar Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia Haryajid Ramelan di Jakarta, Kamis, 22 September 2011 malam. 

Ia tidak menampik jika koreksi terhadap indeks harga saham bakal terus terjadi karena sampai kini penurunan indeks tetap dipengaruhi kondisi krisis perekonomian global. Hal yang paling ekstrem, indeks harga saham di bawah level 3.000. 

Bahkan, Haryajid memprediksikan indeks harga saham bakal terjerumus ke level 2.700 jika krisis di Amerika Serikat dan Eropa terus berlangsung. "Bisa sampai 2.700, tapi itu sangat ekstrem. Saya berharap masih di atas 3.000," ujarnya.

Pada penutupan perdagangan Kamis sore, indeks harga saham anjlok 328 poin atau 8,88 persen ke level 3.369,143. Penurunan kali ini merupakan terbesar sepanjang sejarah bursa. Untuk pertama kalinya pula, indeks jatuh di bawah level 3.400 sejak 14 Februari. 

Investor lokal agaknya terpengaruh terhadap penurunan indeks harga saham sehingga banyak spekulan yang mencoba memainkan psikologi para investor. "Akhirnya ada yang melakukan short selling (penjualan jangka pendek)," kata Haryajid. 

Dalam kondisi seperti ini pun, otoritas bursa perlu menyiapkan protokol krisis. Sehingga para investor pun dapat bersiap-siap jika terjadi situasi yang sama seperti saat ini. "Investor perlu dikomunikasikan. Protokol sangat penting," katanya. 

Haryajid pesimistis target level di atas 4.000 poin hingga akhir tahun. Namun, hal itu bisa tercapai jika kondisi perekonomian global membaik. "Jika Yunani tertangani, begitu pula dengan Amerika Serikat, outlook kita akan membaik," ujarnya. 

Namun, yang paling menakutkan adalah jika para investor tidak memiliki pijakan mental. Hal ini, menurut Haryajid, dapat memperparah keadaan. Sampai saat ini investor lokal sering kali mengikuti rumor dan mengabaikan fundamental perekonomian. 

Padahal, kondisi perekonomian dan emiten di Indonesia masih cukup bagus dibandingkan negara-negara lainnya. "Lebih baik lupakan euforia asing. Indonesia masih bagus," ujarnya. 

SUTJI DECILYA