foto

Raymond Westerling.

Melihat Orang Tua Dibantai Westerling  

TEMPO.CO, Makassar - Andi Mondji terlihat sedih ketika diminta menceritakan peristiwa memilukan 65 tahun lalu itu. Mondji, yang saat itu masih bocah balita, harus menyaksikan orang-orang terdekatnya menjadi korban kekejaman pasukan khusus Belanda, Depot Speciale Troepen, di bawah komando Raymond Westerling.
Ia masih bisa mengingat dengan jelas saat ayahnya, Andi Monjong (juru bicara atau pabbicara di daerah Suppa, Pinrang, kala itu), neneknya, Andi Wenda Daeng Pagoli, dan pamannya, Andi Saleng, tumbang bersimbah darah saat peluru Belanda menembus tubuh mereka di depan mata kepala sendiri.
"Saat itu setiap warga yang mati dikumpulkan dan diangkut oleh warga lain ke lubang yang telah disiapkan," kata Mondji.
Kekejaman pasukan penjajah yang sedang memburu para tentara Republik itu tidak sampai di sini. Warga yang mengangkat korban pun ditembak dan langsung dimasukkan ke dalam lubang.
Andi Mondji menceritakan, kekejaman Westerling diawali dengan pembakaran rumah warga yang berada di pesisir di daerah Sabbang Paru. Kemudian penghuninya digiring ke tempat eksekusi. Masyarakat awam ini dituding membantu para gerilyawan dengan merahasiakan keberadaan mereka.
Wilayah di sekitar Suppa ini menjadi incaran Westerling karena di tempat inilah pasukan Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi di bawah pimpinan Andi Oddang, Andi Murtala, dan Muhammad Said mendarat dari Jawa pada Oktober 1946.
Pasukan Andi Murtala saat hendak menemui Ambo Siraja di gunung dihadang oleh tentara Belanda di Garessi dan terjadilah peperangan yang mengakibatkan Andi Murtala beserta pasukannya tewas semua. Dalam pertempuran itu, turut tewas seorang perwira Belanda.
Itu sebabnya Westerling semakin dendam kepada masyarakat Suppa. Mereka dipaksa menunjukkan tempat persembunyian para pejuang. Tapi, karena jiwa kesatria masyarakat, mereka tetap bungkam kendati nyawa sebagai taruhannya. | SUARDI GATTANG