foto

ANTARA/Rosa Panggabean

BI: Perbankan Nasional Tahan Krisis Global

TEMPO.CO, Bandung - Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Pengaturan dan Penelitian Perbankan Muliaman Hadad menyatakan bahwa fundamental perbankan nasional cukup kuat menghadapi ancaman dampak krisis global. Meski demikian, ia meminta kalangan perbankan tidak menganggap remeh krisis tersebut.

"Saya katakan tadi fundamental perbankan kita sangat kuat," ujar Muliaman saat ditemui wartawan di Hotel Papandayan, Bandung, 24 September 2011. Indikator fundamental yang digunakan oleh bank sentral antara lain, aspek modal, terutama likuiditas.

Pasalnya, krisis seperti ini mengancam likuiditas. “Likuiditas itu menjadi penting," katanya. Sejauh ini, kondisi likuiditas perbankan nasional masih cukup baik. Ditambah jumlah kredit yang macet masih minim.

Ihwal peningkatan angka kredit yang belum dicairkan (undisburse loan), menurut Muliaman, masih wajar. "Apalagi kalau kreditnya itu kredit investasi. Investasi kadang-kadang tidak (langsung) ditarik gitu.”

Untuk pertumbuhan kredit konsumsi di Bank Pembangunan Daerah juga dinilai masih wajar dan cukup aman. Karena pada umumnya, debitor adalah pegawai pemerintah daerah yang melunasi kredit melalui pemotongan gaji bulanan.

Kemudian rata-rata rasio kecukupan modal perbankan nasional juga jauh melebihi 8 persen, angka yang dipatok Bank Indonesia, yakni 17 persen. Bank Indonesia belum akan meningkatkan batas minimal rasio kecukupan modal ini dalam waktu dekat.

"Yang sekarang ada saja sudah kuat. Bahwa nantinya diperkuat lagi, in average, kita bicara industri ya, saya kira itu akan dilakukan. Mudah-mudahan bisa lebih resilient (tahan) industri perbankan kita," ucapnya.

Lainnya, eksposure atau kepemilikan aset-aset perbankan nasional atas portofolio Amerika dan Eropa juga sangat minim."Tidak banyak. Kecil. Pokoknya kecil. Di bawah 5 persen," katanya.

Meski demikian, Muliaman mengimbau kepada pelaku perbankan nasional untuk tetap hati-hati dan siaga atas ancaman dampak krisis global. "Saya setuju betul bahwa kita tidak boleh menganggap remeh ini. Terutama berbagai persoalan di Eropa kita juga tidak tahu seperti apa. Tetapi yang penting, saya mengimbau pada para pengusaha perbankan untuk fokus konsentrasi pada berbagai macam kemungkinan yang akan ada," ujar Muliaman.

Bank sentral pun berharap krisis global cepat berlalu. "Sehingga perbankan kita bisa terus fokus pada intermediasi," ujarnya.

FEBRIANA FIRDAUS