Sejumlah anggota polisi bersenjata lengkap, berjaga di sekitar lokasi peristiwa bom bunuh diri di Gereja GBIS Kepunton, Solo, Jateng, Minggu (25/9). Akibat bom tersebut tersangka pelaku tewas dan sedikitnya 22 lainnya dilarikan ke rumah sakit . ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Topik
Infografis
Intelijen Gagal Mencegah Bom
TEMPO.CO, Jakarta-Ketua Gerakan Pemuda Anshor Nusron Wahid menilai intelijen tidak bekerja optimal mencegah bom bunuh diri yang terjadi di Solo. "Intelijen kurang efektif dan optimal," ujarnya selesai siaran pers terkait bom Solo di kantor Gerakan Pemuda Anshor, Jalan Kramat Raya, Ahad, 25 September 2011, malam.
Menurut Nusron, intelijen harus bekerja sama dengan berbagai pihak. Intelijen, kata dia, jangan selalu menutupi informasi yang sifatnya penting. "Saya tidak mengatakan mereka kecolongan. Namun, mereka harus berbagi informasi."
Ia memandang intelijen tetap butuh bantuan banyak pihak. Apalagi, saat ini radikalisasi dan intoleransi meningkat. Pihaknya menuding pemerintah kurang memberikan pelajara soal Pancasila di sekolah. "Pancasila hanya jadi pelajaran sekunder saja. Padahal itu pembentukan karakter nasional."
Kesatuan yang dibentuknya pemerintah untuk mengatasi terorisme, yakni Detasemen Khusus 88, sudah berupaya memberi edukasi ke publik mengenai sinyal radikalisasi agama. Namun, dia menilai upaya itu belum cukup efektif.
Anshor sendiri berupaya menggalang toleransi dengan melakukan dialog organisasi lintas iman. Salah satu dialog itu akan digelar pada 1 Oktober 2011. Menurut Nusron, pihaknya akan mendeklarasikan hidup bersama Pancasila, di Pesantren Al Gozali, Gombong. Sasaran acara ini ditujukan kepada anak muda.
HERU TRIYONO





