“Ahli lokal harus dilibatkan.”
Topik
Monas Akan ''Dimandikan'' dengan Air Hangat
TEMPO.CO, Jakarta - Arkeolog Candrian Attahiyat menyarankan badan tugu Monumen Nasional dicuci dengan air hangat. Menurutnya, molekul air hangat mampu menetralisasi dinding Monas yang semakin lusuh dan kotor. "Semprotan air saja sudah cukup bagus. Tidak usah pakai sabun atau campuran lain," kata Arkeolog Universitas Indonesia itu, Selasa, 27 September 2011.
Menurutnya, pencucian gedung cagar budaya harus memperhatikan keaslian bentuk bangunan. Ia meminta semprotan air tidak dilakukan dengan tekanan keras. "Jangan terlampau keras. Bisa merusak," ujarnya.
Arsitek dari Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Arya Abieta, juga merekomendasikan pembersihan ikon Ibu Kota itu dengan air panas dan dengan tekanan terukur dan terjaga. "Agar semua debu dan fungus (jamur) terlepas," katanya.
Tekanan yang keras, kata Arya, akan merusak dinding Monas dari marmer. Apalagi perawatan bangunan yang tergolong cagar budaya itu sangat spesifik. "Sangat tergantung dari material dan tingkat keterawatannya," katanya.
Candrian sendiri setuju pencucian Monas dilakukan perusahaan jasa pembersihan gedung bersejarah asal Jerman, Karcher. Perusahaan ini juga yang pertama kali mencuci badan tugu Monas pada 1992.
Rencananya, pada 25 Oktober 2011, tim Karcher datang melakukan studi kajian terhadap kondisi daya dukung Monas. Sementara pencucian dimulai pada awal Desember dan akan memakan waktu selama dua pekan.
HERU TRIYONO | AMANDRA MUSTIKA MEGARANI





